Home » » “Aku” itu Kejam, Pandai Memutarbalikkan Fakta!

“Aku” itu Kejam, Pandai Memutarbalikkan Fakta!

Written By Admin Saturday, January 29, 2011 - 1:03 AM WIB | 0 Komentar

Kehidupan merupakan suatu dinamika, ada pemenang ataupun ada yang dikalahkan, ada penguasa adapula yang dipimpin, ada kegembiraan adapula kesedihan, ada yang bangkit ada pula yang jatuh, ada si kaya ada juga si miskin, dan itu semua adalah sebuah dinamika kehidupan, karena roda akan terus selalu berputar sampai masanya habis, inilah dunia, penuh lika-liku dan teka-teki tersembunyi. Tiada yang abadi didalamnya, semua sudah terskenario dengan sangat rapi, seolah-olah skenario itu tampak nyata bagi siapa yang tidak memahami.


Seseorang yang paham dengan skenario itu, dia hanya tersenyum dengan manis, tiada keraguan dan rasa was-was didalam diri, yang ada hanyalah berselimut dengan ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Walaupun dia jatuh berselimut dengan kenistaan, walaupun dia jatuh di kolong kehinaan, walaupun juga berselimut dengan kesusahan, dia tidak bergeming sama sekali, bahkan mengokohkan dirinya seperti karang yang dihantam ombak tanpa sedikitpun bergeser dari tempatnya.


Sungguh sangat mulia apabila ada sesosok anak manusia mempunyai kekuatan itu, kekuatan yang sangat dasyat dengan berselimutkan kekuatan agung dibalik dirinya, karena apapun yang terjadi dia tidak terpengaruh sedikitpun dengan gemerlapnya dunia, dengan kekeruhan yang diciptakan dunia itu pula, karena apapun itu, dunia penuh dengan kekeruhan, penuh dengan masalah, penuh dengan kamuflase penuh dengan kebohongan dan fatamorgana belaka. Maka janganlah heran apabila kita hidup didunia menemukan keganjilan sehingga menjadikan kita lupa bahwa dunia adalah tempat Sang Sutradara memainkan skenario sandiwaranya. Maka apabila dunia ini tempat panggung sandiwara dimana Sang Sutradara memainkan skenario sandiwaranya, pasti sandiwara itu ada ujung dan batas akhirnya.


Inilah banyak lakon pemain sandiwara kehidupan sebagian besar terjebak dalam panggung sandiwara itu. Seakan-akan dia kekal bermain dalam sandiwara itu, yang dijadikan lakon sebagai penguasa seakan-akan merasa bisa memimpin, yang kaya dia merasa kaya, yang mulia dia merasa mulia, yang alim merasa dirinya suci, yang pintar merasa dirinya diatas rata-rata, begitupula yang hidup merasa dirinya hidup, padahal dibalik itu semua adalah sebuah skenario dari Sang Sutradara, tapi mengapa kita merasa memiliki? Seakan-akan akulah yang menjadi sutradara yang dapat mengatur skenario dengan seenaknya?


Kalau begitu dimana Sang Sutradara Sejati?


Ingat skenario pasti ada batasnya, maka apa jadinya jika kita tidak mengenal apa yang diskenariokan oleh Sang Sutradara, sehingga dalam peran tersebut timbul pengakuan didalam jiwa, akhirnya "Aku" memutarbalikkan fakta, dimana kita lahir tidak bisa apa-apa dan tidak membawa apa-apa.


Sekarang diberi amanah menjadi pandai, menjadi alim, menjadi kaya, menjadi mulia, sehingga dihormati orang bahkan dipuji orang seantero jagat dengan segudang prestasi yang kita miliki.


Apabila saat itu timbul pengakuan didalam diri merasa aku hebat, aku pandai, aku alim, aku kaya, aku mulia, aku hidup, aku orang berpengaruh sehingga dengan apa yang kuperbuat sekarang seantero jagad menghormati dan memujiku, dengan tulisanku juga banyak orang yang kagum denganku! sehingga ujung-ujungnya dalam hati kecil walau tidak diucap secara terang-terangan timbul pengakuan "akulah Tuhanmu yang patut disembah dimuka bumi!


Astagfirululloh Hal Adzim!


Ternyata "Aku" itu Kejam, Pandai Memutarbalikkan Fakta! sehingga berani merampas haknya Tuhan!


Ingatlah wahai saudaraku!


"Sekiranya di langit dan di bumi (jagad) ini ada tuhan-tuhan (aku) selain Alloh, maka rusaklah jagad ini." (QS : Al Anbiya' 21)


Maka bayangkan apa jadinya jikalau tiba-tiba malaikat izroil mendadak menjemput kita dengan membawa perasaan menjadi Tuhan (AKU)?


Awas sanjungan itu bagaikan racun yang siap membunuhmu secara perlahan!


Yaa Tuhan…..


Alangkah menakjubkan ketika aku hidup, aku tidak tahu dimana Kau berada. Padahal Kaulah yang ada, tapi mengapa yang ada menjadi tidak ada, apakah yang ada itu tidak ada? ataukah yang tidak ada itu yang ada? kalau begitu matikan aku biar aku tidak ada, sehingga aku mengenal yang ada dan lebur kedalamnya. (Al Fakir yang Hina)




Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment