Home » » Karakter Manusia Berbasis Hamba

Karakter Manusia Berbasis Hamba

Written By Admin Tuesday, January 4, 2011 - 1:24 AM WIB | 0 Komentar

Abad 21 merupakan abad terberat dan terhebat, kecanggihan teknologi tidak bisa dibendung dan dihindari lagi, pegeseran dari makhluk nomaden menuju makhluk modern sudah terjadi bak jamur yang tumbuh subur, tak terelakkan lagi pergeseran nilai Ketuhanan sudah mulai nampak terjadi, banyak orang sudah mulai eksodus dari ketauhidan menuju kepada mengagung-agungkan akal dan logikanya, ini sudah mulai terbukti, paham-paham kapitalis dan duniawi sudah meracuni hati umat manusia, sehingga semua serba pehitungan tanpa mengindahkan hukum dari Tuhan. Masalah otak mulai gencar di di seminarkan,baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah. akan tetapi masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati tempat sebuah kedamaian dan tempat sebuah kesucian. Ironinya pelaku-pelaku yang menggali masalah otak tersanjung dan disanjung, Bagaikan pahlawan dalam kehidupan didunia ini, Sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa tenggelam dan ditenggelamkan.


Ada fenomena apa dalam kehidupan ini?


Pada situasi saat ini kegalauan, kegelisahan, rasa cemas mencekam, tiada lagi titik perdamain, alam semakin tidak bersahabat, bencana tejadi dimana-mana baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan, karena manusia sudah kehilangan jati dirinya sehingga manusia bukan berjiwa sebagai manusia lagi akan tetapi manusia yang anarkis, buas seperti serigala haus dengan darah mangsanya, hukum rimba terjadi dimana-mana, siapa yang kuat dialah pemenangnya. sehingga seorang berani membunuh saudaranya, ayah bahkan ibunya sendiri. perzinaan dilakukan terang-terangan, Orang amanah dituduh berkhianat, sedangkan orang yang khianat diberi amanat.


Tiada lagi suatu penerang jiwa, dan penyejuk hati, karena manusia bukan lagi sebagai hamba akan tetapi manusia telah menjadi Tuhan-Tuhan baru yang bermunculan dimuka bumi. Merasa kuat, merasa berkuasa, bahkan merasa memiliki. Kebodohan hati menjadi dominan, maka inilah pertanda detik-detik hancurnya dunia akan terjadi.zaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api.


Sifat anakris sudah merebak dimana-mana terutama dikalangan generasi muda, lihatlah tragedi Kerusuhan yang baru-baru ini terjadi, masih ingatkah kejadian bencana kemanusiaan di Tarakan yang baru-baru ini terjadi, ataupun kejadian malam minggu berdarah di Blowfish , Jakarta hanya gara-gara berebut lahan sehingga baku tembak terjadi, tak terelakkan lagi sekali lagi korban berjatuhan. Atau yang lebih parah lagi pembantaian berdarah di jalur gaza yang menelan ribuan jumlah orang yang mati syahid karena kebringasan pemimpin bangsa. dan ironinya umat islam terbelalak terbengong tiada daya untuk membela saudara kaum muslim di palestina itu, hanya raungan ompong "mengutuk" kebiadaban zionis israel. ataupun tragedi kelam sejarah anak manusia mulai perang dunia 1, 2 yang membunuh jutaan nyawa tak berdosa, serta masih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang telah terjadi di atas bumi ini, yang jelas intinya adalah Anarkis dan Tidak Berkprimanusiaan!.


Dari mana semua itu berasal? Yang menjadikan manusia menjadi anarkis, brutal dan tidak ada Kasih Sayang diantara sesama? renungakanlah wahai saudaraku?


Jawabannya hanya satu! Otaklah sebagai "Dalang Utama" dimana pada posisi otak yang mengusai hati, bukan sebaliknya semestinya hati yang mengusai otak, akal ataupun pikiran. maka jangan kaget, Ternyata otak dalang utama kehancuran dunia!


Maka situasi yang sedemikian ini patutlah kita harus kembali pada pendidikan "Karakter Manusia Berbasis Hamba" dimana manusia sebagai kholifah dan dimana manusia sebagai hamba Tuhan.


Adzariyat ayat 56: "dan tidaklah AKU (Alloh) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKu".


Maka dari itu kita harus menemukan formula yang tepat agar manusia tetap sebagai manusia yang santun, manusia yang lemah lembut, dan manusia yang bersaudara bukan manusia sebagai Tuhan yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki. Sehingga menjadi anarkis dan kejam.


Dan yang mampu menghancurkan karakater-karakter pengakuan sebagai Tuhan (Merasa mampu, yang merasa berkuasa, merasa hebat, merasa menjadi penulis, serta merasa memiliki). hanya kekuatan mutlak yang mana kekuatan itu senantiasa bersama manusia dimana dan kapanpun berada.


Al Hadid ayat 4 : "….Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…."


Ironinya kekuatan agung itu tidak bisa disandingkan atau disekutukan dengan apapun walaupun sekecil atom perasaan aku, maka mutlak manusia harus meleburkan perasaan akunya. Karena kalimat Allah Yang Maha Agung inilah yang bersumber dari produk hati yang suci dan produk jiwa yang betul-betul sejati dan muncul dari jiwa betul-betul murni sebagai hamba, bukan jiwa munafik, bukan pula jiwa yang pengecut.


Maka Sekecil mempunyai perasaan aku pasti tidak akan datang kekuatan agung itu, sebiji atom manusia merasa bisa tidak akan datang kekuatan agung itu didalam jiwa manusia.


Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (sebiji atom)-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun (sebiji atom), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).


Renungkanlah? murnikah kita sebagai hamba? atau masih merasa ada pengakuan sebagai Tuhan?




Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment