Home » » Ternyata Tuhanku adalah Nafsuku!

Ternyata Tuhanku adalah Nafsuku!

Written By Admin Saturday, January 1, 2011 - 12:34 AM WIB | 0 Komentar


Dalam ujung awal pergantian tahun ini penulis khusus menyajikan sebuah refleksi perenungan jiwa bagi para pembaca untuk menjadi pribadi yang anggun dan sempurna. Mari kita sama-sama masuk dalam medan perenungan jiwa yang murni, lepaskan logika kita, gantilah dengan hati yang suci, karena kebenaran yang hakiki bukan terletak didalam otak, akal, pikiran, ataupun logika tapi kebenaran hakiki bersumber dari jiwa yang murni dan suci. melalui pintu nol, kosong, merasa tidak ada apa-apa, karena pada saat posisi itulah kekuatan jiwa yang dasyat akan muncul.


Dan siapakah manusia itu?manil insan?who is human? Sopo sejatineng menungso?


Di dalam Al - A'rof ayat 11:


"Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud."


Maka dari rujukan ayat diatas sebagai kata kunci ialah bahwa manusia itu adalah diciptakan "Wa laqod kholaqnaakum", dan apabila manusia itu diciptakan berarti berarti hakekatnya jelas tidak ada!. karena ada itu ada yang menciptakan.


Lalu dikuatkan didalam (QS : Azzumar 30)


"Sesungguhnya kamu adalahmati dan Sesungguhnya mereka adalahmati (pula)."


Lalu bagaimana kita bisa mengenal dan menemukan Dia yang Ada? sedangkan ciptaan yang jelas tidak ada bersemayam dalam jiwa ini, sedangkan jiwa ini hanya mengenal Tuhan.


"Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul Engkau Tuhan kami….." demikianlah Alloh berfirman didalam surat Al-A'rof 172.


Maka mutlak manusia harus kembali kepadaNya


"…mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya.." (QS al bayyinah 5)


Sedangkan untuk mengenalNya melalui pintu ma'rifat lah manusia mengenal Tuhannya.


Lalu ma'rifat sendiri itu apa? Ma'rifat ialah ilmu seseorang yang diterapkan sesuai tuntutan ilmu tersebut.


Sebagai analogi gambaranya:


Kita tahu bahwa gula itu manis, akan tetapi ada dua pendapat manisnya itu memang dia merasakan sendiri dan satunya manisnya gula itu karena cerita dari orang lain yang pernah merasakan bahwa gula itu manis (ilmiah). Perbandingan antara rasa dan ilmiah. Dan rasa itulah yang disebut ma'rifat.


''Pertama kewajiban seseorang adalah Ma'ifat kepada Tuhannya dengan yakin". (Syekh IbnuRuslan dalam kitab Zubad)


Maka ketika ma'rifat itu hukumnya wajib, maka hukumnya haram pula orang yang tidak mengenal Tuhan atau ma'rifat.


''Bodoh Billah ( tidak mengenal Tuhan ) hukumnya haram, dan Ma'rifat Billah (mengenal Tuhan) adalah wajib " ( Jami'ul Ushul Auliya' Hal 159 )


Karena bagaimana mungkin kita lupa pada Dia sedangkan dia yang menciptakan kita?


Bagaimana mungkin kita lupa dengan Dia padahal Dialah yang memberikan nikmat kepada kita?


Sungguh dholim amat ketika kita tidak mengenal Dia!


Didalam Al Quran Al Anfal ayat 2 mengatakan :


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."


Ada sebuah perdebatan besar, pada suatu saat dua ulama besar bertemu yang satu ulama ahli filsafat yang satu ulama ahli ma'rifat yaitu Ibnu Sina dan Abu Sa'id:


- Filsafat, ahlikalam, mutakallimin, ahli tafakkur,ahli ilmu,jenius,saking jernihnya sehingga menemukan Tuhan denganakalnya.


Kebalikan dari ahli filsafat.


- Arifin, Ahli Ma'rifatsaking jernih hatinya sehinggamenemukan Tuhan dengankesadaran hati.


Seorang ulama bertanya kepada Ibnu Sina bagamana pendapat tentang Abu Said mengenai pembahasan tentang Ketuhanan? Ibnu Sina pun menjawab "Apa apa yangdisampaikan semuanya aku sudah paham,dan mengerti".


Ulama tersebut lantas bertanya kepada Abu Said, "bagamanapendapat Ibnu Sinaya Abu Said?"Abu Said pun lantas menjawab ulama itu juga "Apa apa yg ia katakan aku merasakan semua".


Sebagai contoh : ketika Ibnu Sina dan Abu Said mengucapkan kalimat Allohu Akbar!


Ibnu Sina berkata "aku tahu Alloh Maha Agung, semua ada ditanganNya apa yang kulihat semua kecil".


Akan tetapi


Abu Said berkata "ketika aku mengucap Allohu Akbar, aku merasakan semua kecil sehingga terasa kecil sekali diri ini, dan tak terasa hatiku gemetar dengan hebat dan menangis dihadapanNya".


Marilah kita koreksi bersama-sama sudahkah kita mengenal Dia? Ataukah kenal kita hanya sebatas ilmu dan logika? Ingat tuhan bukan diakal, bukan di otak, bukan pula di angan-angan. dan bukan pula sebuah lafadz.


Renungkanlah wahai saudaraku ! ketika kita sebut AsmaNya Allohu Akbar, Allohussomad, Allohu Kholaqossamawaa Ti Wal Ard, ingatkah kita kepadaNya? Atau hanya sebatas seremonial ucapan belaka? Sehingga yang nampak adalah kesombongan belaka? Merasa suci, merasa baik, merasa paling benar sendiri. Bahkan kita sembah nafsu kita sendiri, !


Bagaimana tidak Alloh kita duakan dengan sifat aku kita. padalah ketika orang mengenal Tuhan, ketika orang itu menyebut asmaNya hatinya pasti bergetar, merasa kecil, merasa rendah, merasa hina, dan merasa banyak berlumuran dosa? Lalu bagaimana dengan kita? kita pasang atribut kesombongan ataukah kita pasang atribut sifat kehambaan?.


Maka ingatlah wahai saudaraku! musuh terbesar bagi manusia adalah didalam diri kita sendiri, yaitu memiliki perasaan aku (aku hebat, aku penulis, aku berkuasa, aku baik, aku orang suci, aku ahli ibadah, aku mulia, dll). dalam sejarah firaun hancur karena sifat akunya, qorun hancur karena akunya, barsisoh hancur karena akunya, dan malaikat azazil hancur menjadi iblis juga karena akunya!


Benarkah selama ini yang kusembah adalah nafsuku yang berselimut dengan asma Alloh Tuhanku yang Maha Agung? Renungkan!


(Renungan awal tahun yang sangat dasyat untuk menjadi pribadi yang santun)




Download Renungan Jiwa Mp3 >>>> Tuhanku adalah Nafsuku


Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment