Home » » Anakku, Masih Ingatkah Filosofi “TEBU”? (2)

Anakku, Masih Ingatkah Filosofi “TEBU”? (2)

Written By Admin Wednesday, December 21, 2011 - 11:38 AM WIB | 0 Komentar

Untuk kesekian kalinya, ketika “Sang Prof” berbisik lirih memberikan petuah yang sangat dalam maknanya, membawa kesejukan serta butiran-butiran hikmah bagi jiwa yang kering ini, dengan nada lemah lembut, penuh kasih sayang Beliau berpesan kepada diri yang hina dina ini:

. 

Anakku…

Seandainya tiba-tiba ada seorang datang mencaci kamu habis-habisan dihadapanmu sambil membentak menujuk jarinya di muka kamu,

Tetap sabar, jangan membalas ya…

Seandainya tiba-tiba ada seorang datang menghujat dan menfitnah kamu habis-habisan, sehingga semua orang mencemooh dan membencimu,

Kamu juga tetap sabar, jangan membalas ya…

Walaupun kamu mampu membalasnya, tapi kamu mampu sabar, menahan untuk tidak membalas, bahkan memaafkan orang mencaci, memaki, dan menfitnah kamu,

Itu lebih baik daripada ibadah, sholat, puasa, bahkan mujahadahmu seribu tahun lamanya dengan membawa perasaan “AKU”,

.

Anakku… Ingat…!!!

Seorang hamba sangat bangga dengan kepapahannya,

Seorang hamba sangat bangga dengan kelemahannya,

Seorang hamba sangat bangga ketika ada dibawah, dan

Seorang hamba sangat bangga dengan air mata kerendahannya,

.

Maka..

Jadikanlah ujian itu untuk mengenal jati dirimu,

Jadikanlah ujian itu sebagai alat untuk merendah dihapadanNYA,

Jadikanlah ujian itu obat dari virus "KEAKUANMU",

Jadikanlah ujian itu sebagai pencuci dosamu,

Jadikanlah ujian itu sebagai tolok ukur sejauh mana hatimu menerima dengan keadaan itu…

.

Menangislah anakku...

Merendahlah anakku..

Paksa jiwamu untuk menunduk yaa…

Paksa hatimu untuk menerima yaa…

Paksa hatimu untuk ridho menerima cacian, makian, dan fitnaan itu…

Tunjukkan bahwa kamu memang benar-benar hamba yang penuh banyak salah dan dosa,

.

Masih ingatkah  filosofi “TEBU”?

Tebu tidak akan bermanfaat selagi tebu itu belum digiling, diperas, bahkan di injak-injak sampai benar-benar mengeluarkan sari tebu itu.

Begitupula hikmah, tidak akan mendapatkan hikmah, selagi ujian, hujatan, fitnaan, kemiskinan, kerendahan, dan belum engkau terima dengan hati yang ikhlas dan ridho.

.

Tetap sabar ya anakku…

Karena Allah pasti bersamamu

Innallaha ma'ashobirin

 

.

Catatan kelam “SI Fakir” yang hina

Dalam Bumi kerendahan, 21 Desember 2011

Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment