Home » » Dahsyatnya Metode “NOL” Menemukan Sang Maha Inti

Dahsyatnya Metode “NOL” Menemukan Sang Maha Inti

Written By Admin Tuesday, June 12, 2012 - 8:49 AM WIB | 0 Komentar

Wahai saudaraku seperjuangan...!!!

Benarkah kita pantas disebut pejuang kesadaran hati yang sejati?

Benarkah kita sudah pantas disebut sebagai pengikut sejati Muallif Ra?

Benarkah kita adalah seorang penabur benih kedamaian bagi umat masyarakat?

Dalam hal ini ALLAH menegaskan dengan setegas-tegasnya, tak terbantahkan oleh siapapun karena kebenaran mutlak hanya miliknya ALLAH.

“Sekiranya di langit dan di bumi ada Tuhan-Tuhan lain selain ALLAH, pastilah keduanya akan rusak binasa.” (QS. Al-Anbiyaa' [21]:22)

Wahai saudaraku dengan kita berkaca dan meyakini kebenaran firman ALLAH diatas, berarti jelaslah sudah, siapapun orangnya tak perduli kaya ataupun miskin, tak perduli jabat ataupun titel kedudukannya, apabila didalam hatinya ada perasaan "AKU", akulah yang pandai, akulah yang paling mulia,akulah yang benar, akulah yang kaya, dll, bahkan merasa dan meyakini bahwa selain ALLAH itu bisa berbuat manfaat ataupun mudharat, maka yang demikian ini adalah perusak bagi kehancuran negeri ini, pengotor bagi perjuangan yang mulia ini, bahkan juga perusak dan pengotor barokahnya bagi umat masyarakat jami'al alamin.

Sebab tidak mungkin ada Tuhan lain selain ALLAH, karena ALLAH adalah Dzat yang tidak berawal maupun berakhir, adanya makhluk sebab "Di" adakan ALLAH, mendengarnya makhluk sebab "Di" dengarkan oleh ALLAH, kehendaknya makhluk sebab "Di" kehendaki oleh ALLAH.

"LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHI" (Tidak ada daya upaya sedikitpun dan tidak ada kekuatan sedikitpun, kecuali semuanya atas kehendak titah pertolongan ALLAH).

Maka dikatakan Hamba ALLAH yang sejati, umat Rasulullah yang sejati, penderek serta pengikut jejak MUALLIF Ra yang hakiki, sedikitpun hatinya tidak ditemukan adanya pengakuan-pengakuan "Ananiyyah", aku hidup, aku mulia, aku pandai, akulah pejuang, dll.

Ketahuilah wahai saudaraku seperjuangan yang dirahmati oleh ALLAH SWT…!!!

Kalau kebenaran sudah menegaskan bahwa hanya ALLAH sajalah yang memiliki kebesaran singgasana kerajaan langit dan bumi, berarti mutlak sikap hamba harus wajib meyakini seyakin-yakinnya bahwa dirinya tidak mempunyai apa-apa dalam arti lain adalah bersih sebersih bersihnya dari apapun juga terutama penyakit ananiyah, yang dahulu dikatakan  "NOL" dari pengakuan sehingga dirinya merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, lebur hanya ALLAH lah yang ada maha memiliki segala-galanya.

"LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHI"

"IDZKULLU SYAI-'IN SIWAAHU 'ADAMUN LAA WUJUUDA LAHU 'ALAT-TAHQIIQI” "(Sesungguhnya segala sesuatu (makhluk) itu sesungguhnya adam (tidak ada).

“IDZIL-WUJUDUL-HAQIIQI KULLUHU LAHU" (karena yang wujud yang sesungguhnya hanya ALLAH "BILLAH") lainnya hanyalah bayangan "NOL" tidak ada, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Apa mungkin ketika kita menghadap kepada Allah hati kita tidak bersih atau dahulu disebut NOL?

Jawabannya jelas tidak mungkin..!!! Otomatis seketika itu kita masih ada perasaan aku, sehingga secara tidak sadar ia telah menyekutukan dan menyandingkan ALLAH dengan keakuannya, maka ALLAH akan murka apabila ada hamba belum bersih hatinya.

Berkali-kali kami ingatkan, NOL BUKANLAH AJARAN, BUKAN PULA ANGKA ATAU BILANGAN akan tetapi NOL ADALAH UNGKAPAN JIWA untuk meniadakan diri, ketika orang itu sudah LILLAH BILLAH masuk didalam jiwa otomatis didalam hatinya itu BERSIH dari segala nafsu yang ada dan INTINYA ADALAH BERSIH, hanya perbedaan bahasa saja untuk memudahkan agar bisa diterima oleh umat masyarakat seluruh dunia yang notabene bermacam-macam kultur, kebudayaan,  sekte, agama, dan bermacam-macam pemahaman dan golongan sehingga kami gunakan bahasa NOL dengan tujuan agar diterima umat masyarakat diseluruh penjuru dunia.

Tidak seperti dikatakan kepada orang-orang bahwa NOL adalah ISTIGHROQ AHADIYAH, bahwa ketika orang itu sudah NOL dia tidak melakukan aktifitas apa-apa, tidak makan, tidak minum, tidak sholat, dan lain sebagainya, akan tetapi justru semakin bersih hatinya semakin sempurna ibadahnya semakin mengikuti tuntunan apa yang diajarkan oleh beliau Rasulullah Saw karena hakekatnya NOL adalah BERSIH JIWA DAN HATINYA DARI PENYAKIT ANANIYAH.

Pengalaman pribadi dari penulis tidak pernah menemukan bahwa beliau KH. Muhammad Heru Sudji Hanarto selaku pengasuh Alam Hikmah menyimpang dari hukum syariat, justru malah kami dibimbing istiqomah untuk sholat berjamaah di masjid, sholat sunnah, puasa, shodaqoh, mujahadah minimal 3 kali lembaran dalam satu hari, mengikuti acara mujahadah-mujahadah yang telah dibakukan oleh beliau Muallif Sholawat Wahidiyah Ra dan lain sebagainya.

Inilah yang membuat rancu dikalangan umat masyarakat sehingga sebagian kelompok orang yang memutarbalikkan fakta bahwa NOL adalah AJARAN padahal bukan! Kami tidak pernah menyebut bahwa NOL itu ajaran yang menyaingi ajaran LILLAH BILLAH yang diajarkan oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah Ra! Astaghfirullah...

Ingat metode dan ajaran itu sangat berbeda jauh, seperti halnya didalam metode membaca Al Quran, bermacam-macam metode seperti qiroati, tartil, halaqoh, kinayah dan lain sebagainya yang telah muncul akan tetapi tujuannya hanya satu yaitu bagaimana seseorang itu bisa membaca Al Quran.

Tidak jauh beda dengan metode NOL, tujuan metode tercipta untuk mengetrapkan ajaran dan NOL sendiri adalah metode untuk mengetrapkan ajaran LILLAH BILLAH yang diajarkan oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.

Sekali lagi kami tegaskan NOL BUKANLAH AJARAN! Terserah bisa disebut apa dan memakai bahasa apa saja, yang terpenting adalah pengetrapannya bahwa bagaimana HATI HARUS BERSIH DARI KOTORAN-KOTORAN NAFSU YANG ADA TERUTAMA DARI NAFSU ANANIYAH SEHINGGA DENGAN BERSIHNYA HATI OTOMATIS ORANG ITU TELAH MENGETRAPKAN AJARAN LILLAH BILLAH!

Maka bersihkan hati kita untuk mengenal Sang Pencipta karena disebutkan dalam kitab kifayatul atqiya' "membersihkan hati itu hukumnya adalah wajib".

“Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sedangkan mengempur perasaan ananiyah didalam adalah wajib hukumnya bagi siapa saja yang ingin menghamba dan mengabdi dengan benar dihadapanNya.

Dan apabila hati manusia sudah bersih, dia akan selalu menjadi penyejuk bagi umat masyarakat, apabila dia menemui kata-kata sanjungan ataupun caci makian yang sangat pedas, dia senantiasa tetap merendah, membuang jauh-jauh rasa balas dendam dan kebencian, hatinya tetap kokoh diliputi dengan sifat kasih sayang serta memandang bahwa semua itu datang dari ALLAH "BILLAH".

"QUL KULLUM-MIN 'INDILLAAHI",  "KHOIRIHI WASYARRIHI MINALLOH"

Baik dan buruk semuanya tidak lepas dari tangan ALLAH yang menentukan, Tuhannya yang dia cintai dan dia rindukan, dia adalah hamba dan ALLAH adalah Tuhannya, segala sesuatu yang dibuat Tuhannya terhadap hamba-NYA, bahkan dirugikan sekalipun, dia tetap senantiasa memandang itu adalah pemberian yang harus diterima dengan puas, ikhlas penuh keridhoan.

Wahai saudaraku sudah seperti inikah hati kita selama ini, atau malah sebaliknya???

Ingat…!!! Kita ini adalah pengikut hamba ALLAH yang agung "Syaikh Sayyid Abdul Madjid Ma'roef Ra", dimana beliau sedikitpun tidak pernah memendam kebencian kepada siapa saja, hatinya selalu penuh kasih sayang, kepada siapa saja selalu bersikap "aku yang salah orang lain yang benar", perasaan kerendahannya selalu dibawa pada setiap orang yang beliau temui, kepada para ulama-ulama yang besar beliau selalu merendah, tidak pernah menampakkan keegoan dan kesombongan, bahkan berhadapan dengan seorang pencuripun beliau justru malah lebih merasa rendah.

Pertanyaannya  bagaimana dengan keadaan kita sekarang? Sudahkah mengikuti jejak beliau atau malah menunjukkan keangkuhan dan keegoisan kita?

Ingat… !!! orang yang mempunyai kepentingan itu jahat, berani berbohong, berani memfitnah, memutarbalikkan fakta bahkan tega membantai dan membunuh saudaranya sendiri, demi mewujudkan kepentingannya itu.

Wahai saudaraku sekali lagi bagaimanakah keadaan kita selama ini, sudah mencocoki dengan akhlak budi luhur Beliau Ra, atau malah sebaliknya kita masih berakhlak cerminan dari LINNAFSI-BINNAFSI???

Ingatlah dahulu disaat orang-orang mencaci maki dirinya, beliau tetap menabur kasih sayang, menganggap itu sebagai teman saudara seperjuangan, bahkan ketika orang-orang disekelilingnya menyatakan bahwa beliau adalah kekasih ALLAH yang agung, justru Beliau Ra tetap tenggelam dengan segenap ungkapan sungguh diriku penuh kedholiman selalu,

"FAQOD DHOLAMTU ABADAN WAROBBINI", Buka Al-Hikam edisi 3:

Disitu Syaikh Sayyid Abdul Madjid Ma'roef Ra mengungkap dawuhnya Syekh Muhyiddin ibnul 'Aroby:

"MAN SYAHIDAL KHOLQO LAA FI'LA LAHU FAQOD FAAZA, WAMAN SYAHIDAHU LAA HAYAATA LAHU FAQOD HAAZA, WAMAN SYAHIDAHU 'AINAL 'ADAMI FAQOD WASHOLA."

Orang yang memandang makhluk (termasuk dirinya sendiri) tidak ada kemampuan, tidak bisa berbuat apa-apa seperti wayang, itu dikatakan sudah agak lumayan, Orang yang memandang makhluk (termasuk dirinya sendirinya) tidak hidup (yang hidup hanya ALLAH SWT), ini yah, dikatakan sudah lebih meningkat.

Orang yang memandang makhluk, atau melihat makhluk ataupun mengingat makhluk ataupun memikir-mikir makhluk itu semua tidak ada, bersih, atau yang dulu disebut dengan NOL, itulah orang yang sudah wushul kepada Tuhan.

Semoga Allah selalu memberi petunjuk dan hidayah kepada kita semua…. Amin…

###

Malang, 12 Juni 2012

Penulis : Omyang Jinggo

Editor : Muhammad Yudhi

NB : Mulai sekarang berkaitan dengan artikel yang ada di blog Alam Hikmah, sudah tidak ada keterkaitan dengan Beliau KH. Muhammad Heru Sudji Hanarto sebagai pengasuh Alam Hikmah, dikarenakan ada sesuatu hal sehingga beliau mengundurkan diri dan tidak aktif lagi sebagai pengasuh blog AlamHikmah.org. terima kasih

Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment