Home » » Ganasnya Virus “Aku” Merubah Manusia Menjadi Tuhan!

Ganasnya Virus “Aku” Merubah Manusia Menjadi Tuhan!

Written By Admin Sunday, August 5, 2012 - 12:27 PM WIB | 0 Komentar

Reportase Rangkuman Pencerahan di Rumah Bapak Cahyo (Dir. PT. Adiprima Suraprinta- Jawapos):

Saat jiwa menyadari akan berpulang dan kembali kepadaNya, dan hidup ini adalah sebuah skenario dari Sang Sutradara saat itulah ketika jiwa menyadari yang ada hanya Allah, itulah nol! Ketika jiwa menyadari bahwa aku dihidupkan itulah nol! Ketika jiwa menyadari semua gerak gerik, kekuatan digerakkan oleh Allah, itulah nol!

Ingat..!!! Nol adalah kondisi rohani ketika berhadapan dengan Allah, dan Ingat..!!! berhadapan dengan Allah hati harus suci dan tidak ada sekutu baginya karena asalnya kita adalah suci berarti kembalinya harus suci, maka nol tidak akan didapat oleh akal akan tetapi hanya didapat oleh orang yang merasakan.

Ingatkah dalam peristiwa ketika jiwa (hati) berdialog dengan Allah yang diabadikan didalam Al Quran surah Al A’raaf : 172? bahwa Allah bertanya kepada hati : “"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" lalu hati menyatakan dengan tegas "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".

Sadarkah bahwa sesungguhnya hati itu kosong, tiada daya dan kemampuan untuk menyatakan itu? Karena mustahil hati mempunyai kemampuan untuk menjawab pertanyaan dari Allah, sebab sebenarnya hati itu tidak mempunyai kemampuan dan tidak mempunyai daya untuk menjawab pertanyaan dari Allah, karena hati sendiri adalah makhluk ciptaan yang mustahil bisa berdiri sendiri tanpa ada yang menghendaki, inilah skenario seperti layaknya robot tidak bisa langsung bergerak apalagi berjalan kalau tidak di setting dan diprogram oleh pembuatnya.

Ketika Allah bertanya “Alastu birabbikum” hakekatnya hati tidak bisa menjawab, lalu Allah memberi kekuatan kepada hati agar bisa menjawab “Qaaluu balaa syahidnaa” sehingga hati mengikuti bahkan hati diberi kekuatan untuk melihatNya.

Ingat…!!! bukan hati kita yang sadar kepada Allah, tapi Allah yang berkehendak agar hati bisa menyatakan seperti itu! karena hakekatnya hati adalah ciptaan yang tidak bisa berkehendak melainkan Allah yang memberi itu semua.

Jadi nol sendiri bukan ajaran melainkan pengetrapan tauhid “Laa haulaa walaa quwwata illa billah” sehingga hati merasakan bahwa sebenarnya aku dihidupkan, aku digerakkan, aku jatuh, aku bangkit, aku susah, aku bahagia, aku diberi iman, itu sebenarnya Allah yang memberi itu semua,  sehingga hati benar-benar menyadari dan merasakan bahwa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, akhirnya hilanglah pengakuan merasa “aku” didalam dirinya.

Inilah pengembalian yang suci, asalnya manusia itu fitrah kembali kepada fitrah, bukan kita mampu memandang Allah (bisa ma’rifat) melainkan Allah sendiri yang berkehendak mengenalkan jatidiriNya.

Dan pengakuan tulus dari jiwa tauhid yang murni ini yang pernah diutarakan oleh Sayyidina Ali KW “laa syakka..!!! anta…!!! anta…!!! (tiada ragu…!!! itu adalah Engkau..!!! Engkau…!!!)”,begitupula seperti halnya doa didalam Sholawat Wahidiyah :

Tenggelamkanlah kami didalam pusat dasar samudra ke-Esaan-MU sedemikian rupa sehingga tiada kami melihat dan mendengar, tiada kami menemukan dan merasa, dan tiada kami bergerak maupun berdiam, melainkan senantiasa merasa didalam samudra Tauhid-MU”, Inilah sumber daripada kemurnian tauhid itu.

Akan tetapi setelah roh diturunkan didunia, Allah menciptakan skenario adanya suatu ujian untuk menguji seberapa kuat dan murni pengakuan sebagai hamba “Qaaluu balaa syahidnaa” dengan menebarkan virus-virus hijab yang berupa ciptaan berupa dunia, harta, wanita yang dijadikan sebagai sebagai penguji, sehingga timbullah suatu pengakuan didalam dirinya (merasa memiliki, merasa berkuasa, merasa beriman, merasa benar dan ujung pangkalnya semua akan di aku miliknya).

Dan ketika perasaan itu muncul saat itulah virus-virus hijab mulai aktif menyerang hati, dimana hati itu awalnya fitrah akhirnya hati terkontaminasi dengan virus-virus hijab itu sendiri (lihat gambar dibawah).

Gambar: kronologis virus “aku” menyerang hati (jiwa)

Dari gambaran diatas terlihat bintik-bintik kecil yang merupakan cikal bakal atau bibit virus-virus hijab yang menyebabkan hati menjadi kotor.

Saat manusia diberi kemampuan apabila dirinya merasa mampu saat itulah virus aku menyerang hati, Saat manusia diberi kemampuan alim apabila dirinya merasa alim saat itulah virus aku masuk kedalam hati.

Begitupula ketika ada bahaya, dia takut bukan pandangannya kepada Allah melainkan takut celaka, takut kehilangan, ketika dirinya ingin pengaruh, saat itulah virus hijab itu masuk dan mengotori hati sehingga hati tidak lagi bertauhid secara murni.

Disinilah nilai perjuangan untuk mengembalikan posisi hati dan menetralisir virus-virus yang sudah menyerang hati agar hati kembali pada porsi awal dan bisa bertauhid lagi kepada Allah, dalam Al Quran inilah yang disebut dengan “Fafirru Ilallah (Larilah kembali kepada Allah)”.

Inilah alasan mengapa nol harus disampaikan keseluruh penjuru dunia! sebab umat sudah lupa dengan janjinya didalam Al’ Araaf 172 sehingga manusia tidak lagi secara murni bertauhid kepadaNya.

Nol bukan ajaran tapi nol ketika masuk kedalam jiwa dan menjadi petunjuk dan saat itu manusia menyadari bahwa “Qoolu balaa syahidna” tidak ada siapa-siapa.

Dan nol sendiri merupakan realisasi dari pengetrapan “Laa Haulaa Walaa Quwaata Illa Billah” tiada daya maupun kekuatan (nol) melainkan hanya Allah.

Ketika manusia merasa bisa, merasa alim, merasa berpengaruh saat itu dinetralisir dengan kekuatan nol, saat itulah hati menyadari bahwa semua itu adalah kehendakNya “Laa Haulaa Walaa Quwaata Illa Billah”.

Dari hati yang penuh hijab, ini butuh diobati yang ada di dalam Al Quran Ash-Shaaffat, [37]: 96 "Wallahu khalaqakum wa maa ta'maluun" dan didalam kalimah syahadat asyhadu an-laa ilaaha illallaah artinya : Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah artinya: dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah. dan ini bukan hanya ada diakal maupun diangan-angan saja akan tetapi harus dirasakan.

Gambar : Menginjeksi hati yang terserang virus “aku” dengan Al Quran

Inilah tauhid yang murni dan inilah inti dari Al Quran itu sendiri sebagai petunjuk untuk mencapai “qoolu balaa syahidna”. Apalah artinya bisa membaca alquran akan tetapi menyimpang tidak tahu Tuhan dan masih ada pengakuan sebagai tuhan? Dan Inilah cikal bakal buku yang dikarang berjudul “Pengakuanku Sebagai Tuhan”, untuk memberi tahu betapa ganasnya ketika virus aku menyerang hati sehingga melupakan diri kepada kepada Allah dan jati diri kita sebagai hamba yang lemah, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa sehingga menjadikan manusia menjadikan tuhan-tuhan baru bermunculan dimuka bumi.

Sudah ada tanda-tanda virus "aku" itu menyerang hati kita?

Ditulis oleh Muhammad Yudhi

Bangil, 5 Agustus 2012

Download Hasil Kajian Hikmah

Download Kajian Hikmah "Rahasia Qooluu Balaa Syahidna"

Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment