Home » » Merindukan Figur dan Akhlaqul Karimah Beliau "Muallif Sholawat Wahidiyah RA”

Merindukan Figur dan Akhlaqul Karimah Beliau "Muallif Sholawat Wahidiyah RA”

Written By Admin Wednesday, September 19, 2012 - 1:05 PM WIB | 0 Komentar

Bagaimana jiwa seseorang itu bisa menjadi sumber tempat terbitnya “Fuyuudlur Robbaniyyah” pancaran-pancaran Ilaahi, sedangkan didalam hatinya masih penuh dengan dinding-dinding hijab yang menutupi pandangan mata hatinya untuk bisa syuhud “sadar” kepada Sang Pencipta?

Bagaimana mungkin seseorang bisa duduk diatas kursi kecintaan Tuhan, sedangkan dia masih belum melepaskan diri dari belenggu-belenggu imprialis nafsu, ujub, riya', takabur, rasa keaku-akuan dan melepaskan diri sifat-sifat kebencian dan kefitnahan, sehingga kembali kepada porsi semula sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan, kedhoifan dan menyadari kalau keberadaannya didunia ini hanyalah sebuah ciptaan yang hakekatnya bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa (NOL menurut istilah kami)?

"WARRIDHOO 'ANIN-NAFSI WARU'YATU IHSAANIHAA ASHLU KULLI SYARRIIN"

“Puas senantiasa nuruti ajakan nafsu dan memandang baik padanya, adalah pangkal sumber segala keburukan dan kejahatan.”

Dengan demikian, jikalau hamba senantiasa dalam frekuensi jiwa yang senantiasa merasa NOL, maka terangkatlah hamba itu dalam wilayah kecintaan Tuhan, Terbukalah pintu dzikir untuknya, ALLAH akan mendudukkan dirinya di atas singgasana tauhid-NYA, tersingkaplah semua tirai-tirai ketunggalan-NYA dalam pandangan mata hatinya, sehingga nampak jelas, hanya ALLAH yang ada, lainnya hanyalah Ciptaan yang hakekatnya tidak ada!

Wahai saudara-saudaraku…!!!

13 tahun lamanya di kota Mekah, Rasulullah mendidik para umatnya tentang ketauhidan yang hakiki agar hati semua umat disaat itu, senantiasa bisa mengetrapkan BILLAH (hanya ALLAH yang ada) sehingga bisa selamat terbebas dari kesyirikan walau itu sekecil jarum, baik yang samar maupun yang jelas.

“KULLU MAN 'ALAIHAA FAANIIN-WAYABQOO WAJHU DZULJALAALI WAL'IKRAAMI.”

Tetapi ironisnya justru malah teringkari oleh umat Rasul itu sendiri, dengan berbagai bentuk macam alasan ini dan itu, takut akan jadi begini dan begitu, sehingga lautan ke-Esa-an tauhid kini menjadi lautan yang kering hanya sebagai hiasan kisah kenangan dimasa lalu, sehingga Islam di akhir zaman ini hanyalah sebagai pepohonan yang berdiri tanpa akar yang kuat.

Satu dengan lain merasa aku alim, merasa aku baik, merasa aku sudah haji, merasa aku ahli ibadah, dan seterusnya..

Ia rela menukar amal ibadahnya hanya karena termotivasi ingin mengejar untuk mendapatkan surga dan pahala, yang dicari hanyalah kepuasan nafsu, hingga lupa kepada tugas hati untuk lebur mengenal kepada Dzat Yang Maha Wujud, dan tunduk merasa kecil dihadapan-NYA!

Wahai saudara-saudaraku…!!!

Kurang cukupkah Rasul sejelas-jelasnya mengajarkan dan mengatakan kepada kita semua bahwa ALLAH yang Maha Esa?

DIA tempat bergantungnya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada sesuatupun yang dapat setara/bersekutu dengan DIA?

“AWWALU WAAJIBIIN 'ALAL-INSAAN”

Kewajiban pertama bagi seseorang (tanpa memandang bentuk usia)

“MA'RIFATUL ILAAHI BISTIIQOONI”

Mengenal kepada Tuhannya dengan seyakin-yakinnya

“AM TAHSABU 'ANNA 'AKSTARAHUM YASMA'UWNA 'AWYA'QILUUN”

Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami kebenaran yang telah diturunkan kepada mereka?

“INHUM 'ILLAA KAL'AN'AM BALHUM 'ADHOLLU SABIILAA”

Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang bahkan lebih sesat daripada binatang (Al-Furqaan [25] :44)

Bahkan seorang pewaris Rasul pejuang kesadaran hati yang sejati, KH. SYEIKH SAYYID ABDOEL MADJID MA'ROEF RA Muallif Sholawat Wahidiyah bertahun-tahun berusaha dengan segala dan upaya menyebarkan benih-benih ketauhidan yang sempurna yang sangat di butuhkan sekali oleh umat masyarakat jami'al alamin.

Seperti apa yang digambarkan didalam Al Quran:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25)

Diibaratkan bagaikan benih yang nantinya akan tumbuh sebagai pepohonan yang asal pokoknya berada di ujung tanah dan cabang-cabangnya menjulang tinggi di langit, dan setiap masa pohon tauhid kesadaran itu memberi bermacam-macam buah yang bermanfaat bagi umat masyarakat.

Itupun kini menjadi kering tandus karna ulah tangan-tangan kotor yang mencoba memberi hama bagi kesuburan benih tauhid tersebut, sehingga kesadaran kepada ALLAH kini menjadi terkotak-kotak, bagaikan seorang pahlawan yang lupa dengan apa yang diperjuangkan atau bagaikan makan gula lupa dengan rasa manis didalam gula itu sendiri, padahal sudah jelas seperti apa yang didawuhkan dalam kitab AL-HIKAM:

"FAIFROODUT-TAUHIIDI BA'DA FANAA'IL AGHYAR HUWA HAQQUL YAKIIN"

Meng-Esa-kan Tuhan men-Tauhid-kan ALLAH berarti men-fana'-kan makhluk, menghapus makhluk, jika engkau benar-benar memandang Tuhan dengan seratus persen maka otomatis makhluk tidak ada "NOL" dalam pandangan mata hatimu.

Wahai saudara-saudaraku…!!!

Ingat sekali lagi "NOL" bukanlah suatu ajaran tapi NOL adalah suatu karunia ketika suatu ajaran "BILLAH" diperkenankan masuk didalam jiwa hamba, disitulah jiwa hamba akan mengalami suatu perwujudan ungkapan:

"LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH"

“Tidak ada daya dan kekuatan (NOL) kecuali atas titah ALLAH”

"ALLOHU YAA WAAHIDU YAA AHAD"

“Allah yang maha Esa Allah yang maha satu dan yang lainnya hanyalah "NOL" tidak ada.”

"KULLU SYAI'IN HAALIKUN ILLAA WAJHAH"

“Segala sesuatu (makhluk) itu hakekatnya rusak, lebur tidak ada (NOL), kecuali hanya Allah yang maha ada/wujud, kekal selama-lamanya.”

Dawuh ulama' sufi Syaikh Imam Hasan As Syadzali:

"MAN LAM YATAGHOLGHOL FII 'ILMINAA HADZAA KAANA MUSHIRRON 'ALA-KABAA-IRI WA-IN 'AMILA MAA 'AMILA WAHUWA LAA YA'LAMU"

“Barang siapa yang tidak merasakan ilmu kesadaran Billah, dia berdosa besar, sekalipun bagaimana baiknya amal ibadahnya, dan dia tidak menyadari kalau telah berbuat dosa besar”

Dan di dalam hadits Qudsi terdapat sebuah pelajaran manakala Nabi Musa, dimana seorang Nabi yang sudah jelas-jelas terjaga dari segala noda dosa, dari segala pengaruh-pengaruh imprialis nafsu, tatkala dia bertanya kepadaTuhannya:

"YAA ROBBI KAIFAA ASILUU ILAIKA"

“Yaa Tuhanku bagaimana caranya aku bisa bertemu yang dengan semestinya kepadaMu..?”

Dijawab oleh Allah:

"FA'ARIQ NAFSAKA WATA'AL"

“Maka tinggalkan ke-aku - akuanmu (NOL) baru engkau bisa sampai kepada-KU.”

Wahai Saudara Seperjuanganku..!!!

Jangan mengaku menjadi umat Rasul yang sejati apabila dihati kita masih tetap bergandeng mesra dengan kesyirikan…!!!

Jangan pernah mengaku pengikut sejati Muallif RA, apabila dihati kita masih belum tumbuh benih sifat-sifat kehambaan, lebur bukan apa-apa dan bukanlah siapa-siapa (NOL)…!!!

Wahai saudara-saudaraku…!!!

Masih tersisakah diantara kita yang tetap tegar berdiri dengan kokoh bagaikan karang dilautan untuk meneruskan jejak-jejak langkah Beliau Muallif RA? menanam dan menabur benih-benih kemurnihan tauhid agar secepatnya tumbuh dan sampai di hati umat masyarakat?

Masih tersisakah diantara kita mewarisi sifat Beliau Muallif RA yang lemah lembut sehingga antara satu pengamal dan pengamal lain saling menghargai, tidak ada saling merasa unggul, dan terciptalah suasana “Qolbun Wahid”, bersatunya hati saling berlomba-lomba merasa menjadi hamba, yang penuh dengan kerendahan dan kelemahan, tidak ada didalam hatinya tersimpan kebencian dan kedengkian walaupun itu sebesar biji atom?

Muallif Sholawat Wahidiyah

Foto : Muallif Sholawat Wahidiyah (Al Habib Syeikh Sayyid Abdul Madjid Ma'roef RA)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 159)

Selamat berjuang wahai saudara-saudaraku…!!!

Salam Qolbun Wahid Jasadul Wahid

---------------------------------------

Ditulis oleh: Omyang Jinggo (19 September 2012)

Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment