Home » » Pesan Beliau: Ikutilah Akhlaqul Karimahnya Muallif Ra

Pesan Beliau: Ikutilah Akhlaqul Karimahnya Muallif Ra

Written By Admin Saturday, May 25, 2013 - 7:00 AM WIB | 0 Komentar


Pesan Beliau ketika kami bersilaturahmi kepada teman dari Makkah (Saudi Arabia), setelah panjang lebar berbicara masalah perjuangan akhirnya Beliau berpesan kepada kami bahwa "apabila Allah menginginkan dan memilih hambanya untuk dicintai pasti akan diuji terlebih dahulu”.

“Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pendusta.” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 2-3)

Oleh karena itu apapun ujian yang ada di Alam Hikmah pesan Beliau hanya diam… diam… ikuti akhlaqul karimahnya Mbah Yai, karena sesungguhnya mengikuti ajarannnya muallif itu tidaklah mudah bahkan dikatakan memegang perkara haq diakhir zaman bagaikan memegang bara api.

Ya mungkin ini kesalahan kami, kesalahan kita bersama karena jauh dari bimbingan Muallif Ra sehingga kami di Alam Hikmah bukan malah menjadikan sumber hikmah akan tetapi malah kami menjadi sumber fitnah dimana-mana.

Maka pesan Beliau kepada teman-teman Alam Hikmah; diam… diam… diamlah… ikuti akhlaqul karimahnya Muallif Ra, karena sesungguhnya murid-murid Muallif itu bisa dilihat dari akhlaqul karimahnya. bahkan kita tidak bertanggung jawab terhadap umat dan perjuangan, malah selalu merasa benar.

Kita lupa bahwa perjuangan ini adalah jamial alamin

Ingatkah wahai saudaraku, kisah ini terjadi di zaman khalifah Sayyidina Umar Ra.

Pada suatu hari Sayyidina Umar Ra melakukan sidak (operasi mendadak) dengan maksud ingin mengetahui seberapa sejahteranya masyarakat pada saat khalifah umar berkuasa.

Ilustrasi: Kepemimpinan Sayyidana Umar Ra.
Ilustrasi: Kepemimpinan Sayyidana Umar Ra.
Pada suatu malam Beliau berkeliling kampung-kampung tanpa di temani ajudannya dan Beliaupun berdandan seperti rakyat biasa yang tidak memiliki apapun, dari segi pakaian sepintas orang tidak akan mengenali Beliau.setelah lama berkeliling dia melihat pada suatu gubuk yang di tempati oleh seorang ibu dan kedua anaknya.

Dan pada saat itu kedua anaknya merengek menangis sambil berkata kepada ibunya, "ibu....... aku lapar!" dan ibunya pun menjawab, "sabar ya nak ibu kan lagi memasak gandum cuman  saja yang belum matang" dan anak si ibu itu tetep saja merengek dan menangis mungkin karena kecapaian akhirnya kedua anaknya pun tertidur pulas dengan kondisi perutnya yang lapar.

Dari kejauhan Sayyidina Umar Ra pun melihat serta memperhatikan tingkah laku si ibu itu. Satu jam pun berlalu dan Sayyidina Umar merasa heran dan berkata dalam hatinya "kenapa makanan yang di masak si ibu tak kunjung matang memang apa yang di masaknya itu" karena rasa penasaranya akhirnya Sayyidina Umar pun mendekati dan menghampiri rumahnya si ibu tadi dan bertanya kepada si ibu tadi dan berkata: "wahai ibu tadi aku sempat memperhatikan apa yang kau katakan kepada kedua anak mu dan engkau menjawab makanannya belum masak, memang sebenarnya apa yang engkau masak dengan waktu yang cukup lama sampai akhirnya kedua anakmu pun tertidur kecapaian dan dalam keadaan lapar?"

Si ibu itupun menjawab dengan nada yang sedih  karena telah membohongi kedua anaknya "aku tidak masak apapun karena aku tidak memiliki sesuatu untuk di masak" lalu umar pun bertanya kembali "memang tadi engkau memasak apa?" dan ibu itupun menjawab sambil memperlihatkan kepada Sayyidina Umar apa yang ada di dalam panci itu, "inilah yang saya masak, dan engkau pun melihatnya sejak dari tadi" saat di perlihatkan oleh si ibu tadi apa yang ada di dalam panci tersebut. Sayyidina Umar pun merasa iba karena rasa ingin membahagiakan anaknya si ibu itu rela berpura-pura memasak makanan padahal yang dia masak bukanlah gandum yang bisa di makan tapi si ibu itu terpaksa memasak air yang di isi dengan sebuah batu.

Melihat kejadian itu Sayyidina Umar Ra pun bertanya lagi kepada si ibu, "memang apa yang telah dilakukan pemimpin di negeri ini?" dengan jujur dan merasa tidak mengetahui sebenarnya siapa yang bertanya itu, maka si ibu pun menjawab "pemimpin di negeri ini adalah pemimpin yang tidak punya rasa tanggung jawabnya terhadap warga miskin dan tida ada kepeduliannya terhadak orang kecil".
Mendengar jawaban itu dari si ibu, Sayyidina Umar Ra pun merasa malu sebagai pemimpin dan berkata kepada si ibu itu "ibu kamu tunggu sebentar di sini aku akan kembali lagi kesini" dan Sayyidina Umar Ra pun berangkatlah ke gudang tempat penyimpanan makanan.sesampai di sana umar langsung meminta kepada penjaga gudang tersebut untuk di bawakan sekarung gandum kepada Beliau.

Masuklah si penjaga tadi ke dalam gudang penyimpanan dan mengambil satu karung gandum sesuai permintaan dari umar, setelah sampai di hadapan umar kemudian si penjaga tadi bertanya lagi, "wahai amirul mukminin kepada siapakah aku harus mengantarkan gandum ini" dan umar pun menjawab "wahai penjaga biar aku saja yang mengantarkan gandum ini!".

Mendengar jawaban Sayyidina Umar Ra si penjaga tadi tetep merasa tidak enak dan menjawab kembali, "wahai amirul mukminin ini adalah tugas dan tanggung jawabku, jadi biar aku saja yang mengantarkan gandum ini"mendengar jawaban tersebut Sayyidina Umar Ra tersenyum dan berkata "wahai penjaga ini adalah tanggung jawabku sebagai pemimpin mau kah kamu menangung tanggung jawab saya di yaumil akhir ketika semua manusia di kumpulkan dan pemimpin juga di minta pertanggungjawabannya karena telah menyia-nyiakan amanat dan menelantaran rakyatnya".

Mendengar jawaban begitu akhirnya si penjaga tadi menurunkan karung gandum di atas pundaknya dan menyerahkannya kepada Sayyidina Umar Ra. Dan umar pun berangkat lagi menuju rumah si ibu tadi dan membawa gandum untuk di berikan kepada ibu tadi, sesampai disana umar pun berkata "wahai ibu cobalah masak gandum ini dan berikan kepada anak-anakmu yang kelaparan".

Melihat kedatangan Sayyidina Umar Ra dan dengan membawa satu karung gandum yang dibawa sendiri,si ibu tadi merasa terharu juga senang dan mengucapkan rasa terimakasinya,dan kemudian bertanya kepada Sayyidina Umar, "wahai tuan siapakah gerangan anda yang mau memberikan gandum kepada kami" lalu umar pun tersenyum dan berkata "wahai ibu aku adalah amirul mukminin dan aku adalah pemimpin negeri ini”.

Mendengar jawaban umar begitu, si ibu tadi sontak merasa kaget dan takut jangan-jangan Beliau akan menghukum atas kelancangan dan kekurang ajarnya,dan si ibu tadi pun berkata "wahai amirul mukminin ampunilah hamba yang telah lancang dan berani mencaci dan menjelekan tuan karena ketidak tahuan hamba".

Dan Sayyidina Umar Ra menjawab "sudahlah ibu ini adalah tanggung jawab saya sebagai seorang pemimpin di negeri ini" hakikatnya pemimin adalah pelayan bagi rakyatnya bukannya mengunakan kesewenang-wenangan untuk memindas, memeras, mendzalimi, dan pemimpin yang baik dapat dilihat dari seberapa baiknya dia melayani masayarakat.

Wahai saudara-saudaraku….!!!

Pelajaran apa yang kita dapatkan…? begitu besar tanggung jawab dan santunnya Beliau. Bagaimana dengan diri kita sebagai pengikut Beliau Ra. Alangkah malunya diri ini bila dibongkar rahasia hati kita (WAHUSSILA MAA FISSUDUUR)!

Ternyata diri ini masih jauh, masih egois, tidak ada rasa kasih sayang di hati kita, padahal kita mengaku sebagai pejuang kesadaran.

Mari kita koreksi sedalam-dalamnya diri kita karena cepat lambat akan pulang dan jangan sampai sesat dijalan!

Ingat motto kita “HIDUP SEKALI HARUS BERARTI” ini harus diwujudkan…. dan harus diwujudkan!

Sudahkah saya… teman-teman dan saudara-saudaraku di Alam Hikmah meniru akhlaqul karimah Beliau yaitu memiliki rasa tanggung jawab dan kasih sayang terhadap sesamanya?

Beliau rela memikul gandum demi untuk rakyatnya padahal Beliau seorang raja, sedangkan kita manusia yang tiada arti malah enak-enakan dan sering menyalahgunakan amanat dengan merasa benar dan suci.

Wahai saudaraku…. Marilah kita koreksi diri kita sebelum dikoreksi oleh Allah dihari pengadilan nanti “HASIBUU ANFUSAKUM WAHUWA ANTU HASABU” Sayyidina Umar Ra.

Yaa.. semoga bermanfaat karena kita hidup hanya sekali dan harus berarti

Yaa Allah tolonglah kami…. Bimbinglah kami… mujahadah…. mujahadah… agar kita dikaruniai Musyahadah.
-------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kelam Perjalanan “Si Fakir” yang hina

Dalam Bumi Kerendahan, 24 Mei 2013

Hidup Sekali Harus Berarti


Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment