Home » » Inilah Zaman Ketika Otak Menjadi Tuhan! (2)

Inilah Zaman Ketika Otak Menjadi Tuhan! (2)

Written By Admin Sunday, May 11, 2014 - 10:48 AM WIB | 0 Komentar

Ingatlah wahai saudaraku!

Hati tetap fitrah, akan tetapi mengapa tidak ada yang pernah menggali? tapi masalah otak, digali dan diseminarkan? sekarang otak menjadi idola, alam logika kita agung-agungkan, Masalah otak mulai gencar di seminarkan, baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah. akan tetapi masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati tempat sebuah kedamaian dan tempat sebuah kesucian. Ironinya pelaku-pelaku yang menggali masalah otak tersanjung dan disanjung, bagaikan pahlawan dalam kehidupan didunia ini, Sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa tenggelam dan ditenggelamkan.

Ada fenomena apa dalam kehidupan ini?

Masalah otak mulai gencar di di seminarkan,baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah, akan tetapi masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati tempat sebuah kedamaian dan tempat sebuah kesucian.

Ironinya pelaku-pelaku yang menggali masalah otak tersanjung dan disanjung, bagaikan pahlawan dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa tenggelam dan ditenggelamkan.

Ada fenomena apa dalam kehidupan ini?

Abad 21 merupakan abad terberat dan terhebat, kecanggihan teknologi tidak bisa dibendung dan dihindari lagi, pegeseran dari makhluk nomaden menuju makhluk modern sudah terjadi bak jamur yang tumbuh subur, tak terelakkan lagi pergeseran nilai Ketuhanan sudah mulai nampak terjadi, banyak orang sudah mulai eksodus dari ketauhidan menuju kepada mengagung-agungkan akal dan logikanya, ini sudah mulai terbukti, paham-paham kapitalis dan duniawi sudah meracuni hati umat manusia, sehingga semua serba pehitungan tanpa mengindahkan hukum dari Tuhan.

Pada situasi saat ini kegalauan, kegelisahan, rasa cemas mencekam, tiada lagi titik perdamain, alam semakin tidak bersahabat, bencana tejadi dimana-mana baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan, karena manusia sudah kehilangan jati dirinya sehingga manusia bukan berjiwa sebagai manusia lagi akan tetapi manusia yang anarkis, buas seperti serigala haus dengan darah mangsanya, hukum rimba terjadi dimana-mana, siapa yang kuat dialah pemenangnya, sehingga seorang berani membunuh saudaranya, ayah bahkan ibunya sendiri. perzinaan dilakukan terang-terangan, orang amanah dituduh berkhianat, sedangkan orang yang khianat diberi amanat.

Tiada lagi suatu penerang jiwa, dan penyejuk hati, karena manusia bukan lagi sebagai hamba akan tetapi manusia telah menjadi Tuhan-Tuhan baru yang bermunculan dimuka bumi. Merasa kuat, merasa berkuasa, bahkan merasa memiliki, sehingga sifat “AKU” mendominasi dan kebodohan hati menjadi dominan, maka inilah pertanda detik-detik hancurnya dunia akan terjadi.

Zaman saling mendekat, satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api.

Ada fenomena apa dalam kehidupan dunia ini?

Tiada penyejuk dan penerang didalam hati semua serba panas, ucapan, tingkah laku, dan tulisan sebagai peluncur kekacauan dan kerusuhan, satu sama lain saling benar sendiri sehingga hujat menghujat, fitnah menfitnah, tuduh menuduh, dan merasa paling benar sendiri. Menjadi baju keangkuhan kita, sehingga muncul penyakit aku.. aku dan aku, Awas!

Lalu dimana sifat kehambaan kita, sebagai manusia yang terlahir dari setetes air yang hina?

Kita tidak menyadari padahal suatu saat otak akan menjadi musuh terbesar umat manusia, karena sumber kehancuran dunia terletak pada kekuatan otak, Sejarah kelam mencatat perjalanan umat manusia, tiada kedamaian ketika umat manusia mengagung-angungkan kekuatan otak.

Maka kekuatan besar itu bukan bersumber dari otak kanan maupun otak kiri dan otak tengah yang tengah diagung-agungkan itu, akan tetapi kekuatan itu besar itu ada didalam hati manusia, dimana hati sebagai penentram jiwa dan merupakan sinyal untuk mengenal Sang Pencipta, sedangkan otak hanya sebatas menerima sinyal untuk mengenal ciptaannNya untuk menemukan Sang Pencipta. Sangatlah jauh berbeda!
Maka didalam Az zumar 30 :

“Sesungguhnya kamu adalah mati dan sesungguhnya mereka adalah mati (pula).”

Ayat tersebut merupakan panduan dan petunjuk dari Allah bagi manusia seyogyanya manusia tidak mampu walaupun hanya sebiji atom. Sudahkan kita demikian ? maka wajarlah didunia ini manusia bukan seperti manusia, sifat anarkis telah mencoreng keindahan dunia ini, terjadi merasa baik dimana-mana. Persaingan yang tiada arti dan saling menjatuhkan dimana-mana, karena karakter bangsa yang berazaskan atas kemanusiaan yang adil dan beradab belum tercermin didalam diri manusia itu sendiri.

Masih pantaskah kita disebut sebagai manusia? apalagi disebut sebagai hamba? mungkinkan dunia telah dikuasai oleh sifat-sifat anarkis berbaju manusia?

Dari mana semua itu berasal? yang menjadikan manusia menjadi anarkis, brutal dan tidak ada Kasih Sayang diantara sesama? renungakanlah wahai saudaraku? Jawabannya hanya satu! Otaklah sebagai “Dalang Utama” dimana pada posisi otak yang mengusai hati, bukan sebaliknya semestinya hati yang mengusai otak, akal ataupun pikiran, ternyata otak dalang utama kehancuran dunia!

Maka situasi yang sedemikian ini patutlah kita harus kembali pada  “Karakter Manusia Berbasis Hamba” dimana manusia sebagai khalifah dan dimana manusia sebagai hamba Tuhan.

“Dan tidaklah AKU (Alloh) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKu”. (Adz- Dzariyat : 56)

Maka dari itu kita harus menemukan formula yang tepat agar manusia tetap sebagai manusia yang santun, manusia yang lemah lembut, dan manusia yang bersaudara bukan manusia sebagai Tuhan yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki, sehingga menjadi kejam dan anarkis.

Sedangkan  yang mampu menghancurkan karakater-karakter PENGAKUAN SEBAGAI TUHAN (merasa mampu, yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki) hanya kekuatan mutlak yang mana kekuatan itu senantiasa bersama manusia dimana dan kapanpun berada.

Al Hadid ayat 4 :   “….Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada….”

Ironinya KEKUATAN AGUNG itu tidak bisa disandingkan atau disekutukan dengan apapun walaupun sekecil atom perasaan “aku”!

Maka mutlak manusia harus meleburkan perasaan akunya, karena kalimat Allah Yang Maha Agung inilah yang bersumber dari produk hati yang suci dan produk jiwa yang betul-betul sejati dan muncul dari jiwa betul-betul murni sebagai hamba, bukan jiwa munafik, bukan pula jiwa yang pengecut.

Maka sekecil mempunyai perasaan aku pasti tidak akan datang kekuatan agung itu, sebiji atom manusia merasa bisa tidak akan datang KEKUATAN AGUNG itu didalam jiwa manusia.

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (sebiji atom)-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun (sebiji atom), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Renungkanlah? murnikah kita sebagai hamba? atau masih merasa ada pengakuan sebagai Tuhan?

Oleh sebab itu untuk menghancurkan virus-virus “ananiyah” dengan 2 kekuatan besar dunia yang bersumber dari jiwa yang bersih.

Yang pertama Kekuatan Sang Pencipta yang bersumber hati yang suci bukan didapat oleh pikiran yang pandai, bukan pula otak kanan, otak kiri maupun otak tengah, akan tetapi hanya bisa didapatkan oleh hati yang bersih dan suci.

Sedangkan yang kedua Kekuatan Nol yang bersumber dari kehambaan sehingga menimbulkan perasaan rendah, perasaan hina, serta perasaan tidak mampu, sehingga menjadi hamba benar-benar murni bukan imitasi, maka perasaan itulah yang akan mendatangkan kekuatan agung tak terbatas dan memancarkan kekuatan yang sejati, sehingga hamba itu senantiasa dilindungi oleh Sang Pencipta.

Maka Kesimpulan dampak apabila manusia tidak mencerminkan sifat“KEHAMBAAN” akan terwujud terapi-terapi iblis menjamur di muka bumi ini yang akan menanamkan virus sifat ke aku-akuan, sehingga manusia bukan lagi menjadi hamba akan tetapi manusia merasa bagaikan Tuhan yang bermunculan dimuka bumi .

Satu sama lain tidak ingin dikalahkan karena merasa menang, merasa unggul, dan merasa lebih dari yang lain. Maka dampak yang jelas timbul ialah timbul suatu kebencian sehingga terjadi anarkis karena ketidakpuasan menyebabkan muncul perasaan paling benar sendiri sehingga antara pemimpin satu dengan pemimpin yang lain bersilangan dan saling menjatuhkan.

Apabila situasi dan kondisi seperti ini masih berlanjut tidak menutup kemungkinan Indonesia bahkan dunia pun hancur karena kebringasan dari hukum rimba sehingga merasa menjadi Tuhan-Tuhan baru dimuka bumi ini, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat pasti akan terjadi lanjutan babak perang dunia ke tiga yang menyebabkan umat masyarakat yang akan menjadi korban kebrutalan para pemimpin bangsa, dimana pada saat itu manusia bukan menjadi manusia yang santun, akan tetapi manusia yang buas, dan tega memakan saudaranya sendiri.

Pada saat itulah

“AKAN DATANG SUATU ZAMAN DIMANA MANUSIA DENGAN OTAKNYA AKAN MENGHANCURKAN DUNIA”.

Nuklir pun akan berjatuhan diatas bumi. milyaran orang tergeletak mati mengenaskan sebab karena sifat keangkuahan dan kepongahan dari virus-virus sifat KE AKU - AKU AN.

Maka mulai hari ini, detik ini kita tanam pohon-pohon kesadaran dengan menyuburkan sifat “KEHAMBAAN”,  yaitu sebagai hamba yang lemah, hina dan tiada daya. dan ini harus dikembangkan bukan di akal akan tetapi benar-benar dirasakan didalam hati agar kita benar-benar mengetahui dimana kedudukan posisi sebagai hamba dan dimana pula posisi Sang Penguasa Sejati.

Renungkanlah wahai saudaraku….

Akal  untuk mengenal  makhluk ciptaan sedangkan hati untuk mengenal Sang Pencipta, alangkah indah hati apabila dekat dengan Sang Pencipta, maka mutlak kekuatan Sang Pencipta didalam hati akan menemukan semua rahasia alam ini, termasuk apa akal dan apa nafsu, apa pikiran dan apa otak.

Yang mana sejak zaman umat Nabi Adam sampai zaman umat Nabi Muhammad, baik itu didalam Taurat, Zabur, Injil, maupun Al-Quran HATI dijadikan prioritas utama bukan OTAK!

Wahai saudaraku…!!!

Kapan kita seminarkan masalah hati?

Adakah intelektual-intelektual yang mampu menggali masalah hati sehingga bisa membimbing hati umat yang anarkis menjadi santun, beradab dan kasih sayang?

Adakah profesor-profesor mampu membongkar rahasia hati hati untuk pendekatan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam?

Mulia dan jayanya kehidupan bila hati menguasai zaman, padahal  hati adalah pemegang kebaikan, karena baik jeleknya manusia tergantung hatinya.

Sabda Rasulullah saw:

“Ketahuilah bahwa pada jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya, ketahuilah itu adalah hati” (Shahih Bukhari)


Catatan Al Fakir yang hina

Dalam bumi kerendahan, 11 Mei 2014

Hidup Sekali Harus Berarti

----


Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment