Home » , » Dibalik Makna Hari Raya “Idul Adha”

Dibalik Makna Hari Raya “Idul Adha”

Written By Admin Tuesday, October 7, 2014 - 9:12 PM WIB | 0 Komentar

Bulan ini adalah bulan yang sangat istimewa dimana beberapa hari yang lalu adalah bertepatan dengan hari raya Idhul Adha, dimana yang melaksanakan ibadah haji pada saat ini ada di Mina sedang melaksakan ritual haji yang disebut lempar jumroh.
Disana bukan sekedar melempar batu kerikil-kerikil akan tetapi mengandung maksud bahwa jamaah haji setelah wukuf di Arafahdan setelah diperkenankan sowan dihadapan Allah (ma’rifat dihadapan Allah) merupakan gambaran rohani yang hakikatnya adalah melempar syaiton-syaiton ada di hati kita yang digambarkan seperti batu ula, wustha, aqoba yang ada di Jamarat.
Tapi hakikatnya hati kita yang penuh syaiton-syaiton, hati kita yang keras bagaikan batu yang ada di Jamarat ini harus diperangi karena di dada kita ada syaiton-syaiton yang keluar masuk melalui pembuluh darah.
Inilah perjuangan saudara-saudara yang ada di Minauntuk melontar jumroh, begitupula yang ada disini hati kita membeku dan membatu sehingga jangankan menangis, ingat dosa saja sulit bagaikan batu-batu di Jamaratyang ada di Mina.
Mestinya kalau hati kita lunak tidak ada syaiton-syaitonyang keluar masuk didalam jiwa kita, tentu kita akan menangis melihat ayat-ayat Allah yang sangat kasih sayang kepada hamba yang penuh durhaka ini, akhirnya kita tidak terasa begitu sayangnya Allah yang menciptakan kita ternyata kita masih diperhatikan untuk mengingat dosa sehingga ketika berucap subhanalloh…, astaghfirulloh…, orang yang penuh dosa tunduk, tersungkur dihadapan Allah dengan berlinangan air mata. Itulah hamba yang dipilih dan diberi petunjuk oleh Allah artinya akan dibebaskan dari catatan ahli neraka.
Apakah kita tahu dengan nasib kita di akhirat nanti? Tentu tidak ada yang tahu!
Walaupun sekarang baik belum tentu ada jaminan, mungkin diri ini termasuk dalam catatan ahli neraka karena hati ini keras… hati ini membeku… dan hati ini membatu…!!!
Saya teringat akan hadist Rasululloh Saw :
“Jumudul ‘aini min qoswatil qolbi waqoswatil qolbi min kasroti dzunuubi”
“Kerasnya mata disebabkan oleh kerasnya hati, kerasnya hati disebabkan oleh banyaknya dosa yang kita lakukan”
Padahal dibalik itu tanda-tanda ditolak oleh Allah SWT, hati kita ini membeku, mengeras sehingga mata ini tidak bisa menangis padahal orang yang diberi hidayah dan dipilih oleh Allah itu ada syaratnya, entah kita ini orang yang dipilih atau tidak.
Ingat ada Surah Mariam 58 :
“Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
Adakah tanda-tanda dari ayat diatas didalam diri kita? atau kita malah sudah bangga, sudah merasa benar, sudah bisa mengetrapkan LILLAH BILLAH? Bohong! Awas jangan menipu Allah! jangan menipu diri! Koreksi yang paling dalam jangan-jangan kita adalah ahli neraka!
Maka orang yang benar-benar diberi petunjuk oleh Allah, bukan terlihat dari ilmunya, bukan terlihat dari banyaknya ia beribadah, bukan hafalnya ia menghafal al quran, akan tetapi ketika ia dibacakan ayat-ayat Allah justru dia tahu dengan cacatnya, tahu dengan masa lalunya yang kelam penuh banyak dosa, akhirnya ia merenung bahwa dirinya adalah rendah, hina, kecil dihadapan Allah sehingga ia merendah, tersungkur dengan baju kehinaan, bahkan menangis karena tahu akan jati dirinya yang penuh berlumuran dosa.
Sehingga memandang ayat-ayat Allah yang ada didalamnya baik itu ayat yang tersurat maupun ayat yang tersirat sehingga banyak musibah, banyak perang, banyak orang mati mendadak, dia merenung mungkin aku mati dalam keadaan tidak ingat kepada Allah, akhirnya ia bersimpuh dan bermunajat:
“Saya rendah Yaa Allah… saya dholim Yaa Allah… saya kufur Yaa Allah… padahal saya belum pernah bersiap-siap diri untuk menemuimu, hatiku tidak pernah ingat engkau, hatiku tidak pernah merasa dosa sehingga hatiku bebal, banyak tertawa, senang mengumpulkan dunia sehingga saya tidak bisa menghadap kepadaMu Yaa Allah…. Yaa Allah ternyata saya kecil… ternyata saya hina, walaupun saya sudah sholat, walaupun saya sudah baik ternyata saya masih hina”
Maka ketika merenung dengan penuh kerendahan, akhirnya dari kerendahan itulah muncul sumber mutiara-mutiara hikmah, yang tercermin didalam sikapnya, didalam ucapannya, didalam perbuatannya.
Yang dulu orang itu disebut anarkis sekarang menjadi santun, sekarang menjadi kasih sayang walaupun disekitarnya menghina dan menghujatnya, dia tidak pernah membalas sehingga timbul akhlaqul karimah didalam dirinya seperti yang dicontohkan oleh beliau Rasulullah Saw ketika dilempar batu sampai berdarah akan tetapi beliau tidak membalas malah memaafkan dan mendoakan orang tersebut.
Akan tetapi bagaimana dengan kita wahai saudaraku? apakah kita sudah bisa seperti itu atau belum?
Wahai saudaraku…
Ketika merunduk, ketika merasa rendah serendah-rendahnya, air mata berlinangan setiap malam, setiap hari, bahkan setiap saat, mengingat dirinya bukan siapa-siapa, menyadari bukan apa-apa, maka muncul didadanya “aku hamba Allah dimana aku nanti akan dimintai pertanggungan jawab”.
Saat itulah si hamba menyadari akan dimintai pertanggungan jawab, sejengkal langkah akan dimintai pertanggungan jawab, sekata ucapan akan dimintai pertanggungan jawab, dia merasa hancur dihadapan Tuhannya tidak ada merasa baik sedikitpun. Orang inilah yang dipilih dan orang inilah yang diberi petunjuk oleh Allah.
Bagaimana dengan kita wahai saudaraku…???
Janganlah merasa menjadi umat Islam kalau kita sudah merasa LILLAH BILLAH!
Janganlah kita sebagai umat Islam kalau kita merasa mulia!
Janganlah kita mengaku sebagai umat Islam kalau kita masih ada pengakuan merasa aku didalam hati!
Bohong wahai saudaraku..!!! kalau hati kita masih belum bisa merendah, penuh banyak dosa dan masih merasa aku!
Kita mengatakan bahwa kita benci dengan syaiton-syaiton, bahkan semua umat Islam mengatakan bahwa musuh kita adalah syaiton-syaiton, akan tetapi apa yang terjadi? Dibalik ucapan itu ketika hati kita dibongkar ternyata kita telah membangun kerajaan dengan kokohnya dihati kita, membangun benteng-benteng pertahanan syaiton-syaiton yang sangat kokoh.
Lisan mengatakan aku benci dengan syaitonakan tetapi jiwa kita seperti syaiton, jiwa kita penuh hasud, penuh adu domba, penuh dengan perasaan ‘AKU’!
Maka ketika membaca ta’awudz (“aku berlindung diri kepada Allah dari godaan syaiton yang terkutuk”) sebanyak mungkin, malah syaiton tertawa sambil mengatakan “kamu bodoh, kamu hanya membenci aku dalam lisanmu tapi kamu merangkul aku didalam jiwamu, bodoh kamu!”
Syaiton tidak pernah takut kepada kita bahkan sholat kitapun telah ditipu daya oleh syaiton sehingga setelah sholat, setelah haji, setelah puasa, setelah berqurban, syaiton menghiasi hati kita dengan baju merasa benar dan mahkota merasa baik, sehingga kehinaan dan kerendahan itu tidak muncul didalam jiwa.
Awas…!!! Bohong sekali diri ini! kita akan pulang dan tidak akan lama kita akan dipanggil oleh Allah, hidup ini sejenak seperti sekejap, tahu-tahu sudah tua! berarti kita tiba-tiba akan mati, sedangkan hati masih keras, dosa kita dimana-mana tapi tidak bisa menangis.
“Maka dari itu Wahai manusia… menangislah… menangislah… sebentar lagi kita akan pulang, sejengkal langkah yang kita lakukan akan dimintai pertanggungan jawab, pendengaran kita akan dimintai pertanggungan jawab, ucapan kita akan dimintai pertanggungan jawab, jika kita tidak bisa menangisi dosa carilah alat yang bisa membuat hati kita tunduk, yang bisa menyadari akan dosa dan kesalahan sehingga bisa menangis”
Tapi aneh di akhir zaman orang yang bisa menangisi dosa malah dianggap asing oleh sesama umat Islam
“Islammuncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
Ketika manusia bangga dengan hajinya, ketika manusia bangga dengan qurbannya, tapi ketika hari raya qurban ada sekelompok kecil yang merasa hina, tidak ada kebanggan karena dirinya mengerti bahwa dia adalah ciptaan.
Semuanya bangga karena mampu berqurban yang dikatakan, ada sekolompok golongan yang menangis dibalik orang-orang bangga dan takabur dengan ilmunya, dengan amalnya, dia merasa kecil, merasa rendah, mengikuti tuntunan Rasulullah, mengikuti sikap tindak tanduknya Nabi Adam “Robbanaa dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lana kuunanna minal khoosiriin“
Artinya :
“Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi”
Orang itu malah suka dengan pakaian kerendahan, dimana umat tertawa dan bangga dia malah menangis didalam kerendahan, dimana umat merasa berbondong-bondong masuk surga tapi dia tidak pantas masuk surga, golongan kecil itu menangis, golongan kecil itu merendah, beda orang-orang yang merasa bahagia dan bangga dengan ibadahnya.
Rasulullah Saw bersabda:
“Siapa yang merasa rendah didalam hidupnya, dia diangkat oleh Allah” (HR. Muslim)
Bagaimana dengan kita wahai saudaraku…???
Kita terbalik malah kita lebih banyak bangga, lebih banyak takabur, lebih banyak “AKU”, lebih banyak tertawa daripada menangisi dosa, buang jauh-jauh dihati kita!
Wahai saudaraku…
Mari kita latih hati kita untuk merasa rendah… Kita latih hati kita dengan perasaan penuh dosa…
Karena sebentar lagi kita akan menemui DIA YANG MAHA SUCI, DIA YANG MAHA MULIA, DIA YANG MAHA KAYA, MAHA MENGAMPUNI DOSA.
Kita tidak akan menemui Allah ketika perasaan bangga itu masih melekat didalam hati kita, maka apa jadinya kita pulang dengan membawa perasaan kotor, membawa kesyirikan perasaan “AKU”?
Astaghfirulloh… Buang kebanggan… Tata hati kita merasa rendah dan merasa hina.
Kita harus berqurban apabila kita telah mampu melaksanakan, tapi yang paling penting qurbankita bukan menyembelih kambing ataupun sapi, akan tetapi makna yang paling dalam hari raya idul adha adalah kita qurbankan sifat-sifat hewani yang ada didalam hati kita (perasaan mulia, perasaan kaya, perasaan, perasaan aku).
Apa arti kita berqurban setiap tahun kalau kita merasa bangga dengan hewan yang kita qurbankan, Seribu kali qurban kalau binatang didalam hati kita belum kita qurbankan semuanya akan sia-sia.
Idul adha ini bukanlah bukan slogan kemenangan semu apabila kita bisa merenungi makna dibalik hari raya idul adha

Ingat Allah telah memperingatkan didalam Al Quran:
“Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al Hajj 22 : 37)
Artinya sekali-kali hewan yang kita qurbankan akan sia-sia jikalau, ada satu biji atom “PERASAAN AKU” didalam hati kita sehingga merasa mampu untuk berqurban, tidak sadar bahwa semua itu adalah karunia dari Allah SWT!
Mari kita rendahkan jiwa kita, karena kita tidak akan bisa sowan kepada Allah apabila ada binatang-binatang najis yang menguasai hati kita sehingga lahirnya seperti umat manusia yang baik, akan tetapi dalamnya penuh dengan syaiton, dalamnya penuh dengan hewan-hewan yang najis, dalamnya penuh dengan patung-patung dunia yang belum kita qurbankan.
Maka potonglah dengan pisau kerendahan, potonglah dengan pisau kehinaan, potonglah dengan pisau kehampaan (NOL) tidak merasa apa-apa, sehingga hati kita bisa benar-benar sowan dihadapan Allah dengan hati yang selamat (bi qolbin salim).
Sehingga ketika ritual tahalul (potong rambut) dilakukan sebagai penutup ritual haji, manusia menjadi suci kembali, dimana rambut digambarkan sebagai makhota kemuliaan akan tetapi ia tanggalkan ia ganti dengan kerendahan dan kehinaan, saat itulah manusia telah paripurna seperti bayi yang baru lahir tanpa ada bekas noda dosa sama sekali.
Semoga Allah membersihkan hati kita, menyucikan roh kita, dan menerima hajinya umat Islam seluruh dunia yang sedang melaksanakan ibadah haji saat ini.
Aamiin…

Catatan kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam bumi kerendahan, 07 Oktober 2014
“Hidup Sekali Harus Berarti”

Refrensi diambil dari kajian Alam Hikmah Ke – 136 :


Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment