Home » » “AKU” Menjelma Sebagai Tuhan Sebagai Sesembahan Umat Manusia!

“AKU” Menjelma Sebagai Tuhan Sebagai Sesembahan Umat Manusia!

Written By Admin Friday, November 14, 2014 - 9:47 AM WIB | 1 Komentar

Wahai saudaraku….
Pada situasi akhir zaman ini, semua akan kembali dan sejarah berulang, kalau dulu orang yang memegang perkara yang hak itu dianggap asing, begitupula akan datang suatu zaman dimana orang yang memegang perkara haq juga dianggap asing.
Rasulullah Saw juga mengatakan :
"Islam (kebenaran) mulai berkembang dalam keadaan asing. Dan kebenaran akan kembali asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing itu." (HR. Muslim).
Kalau dulu zaman jahiliyah dimana orang tidak mampu menemukan tuhannya, sehingga yang disembah adalah patung, akan tetapi akan datang suatu zaman setelah itu sejarah akan berulang, manusia sudah tidak mengenal manusia sudah tidak mampu mengenal  tuhannya sehingga yang disembah bukan Allah akan tetapi yang disembah adalah selain Allah.
“ABGHODLU ILAHIN ‘UBIDA FIL ARDLI AL HAWA” (Hadits)
Berhala sesembahan dibumi yang paling dibendu Allah adalah nafsu (AKU)!
Justru nanti banyak manusia dimana menyembah selain Allah dimana ada patung-patung sesembahan yang paling dibenci oleh Allah dimuka bumi yaitu manusia menyembah hawa nafsunya, manusia menyembah dirinya, manusia menyembah “AKU” nya dan zaman ini pasti akan datang karena yang dicari adalah selain tuhannya!
Oleh karena itu wahai saudaraku dimana situasi yang carut-marut yang mana umat sudah tidak menyembah dan melupakan tuhannya! sudah jauh dari porsinya bahwa kita hakikatnya diciptakan untuk mengadi kepada Allah sesuai  dengan surat Ad-Dzariyat 56 :
“Dan tidak ku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKu”
Maka wajiblah kita mengenal siapakah yang kita sembah, sehingga kita benar-benar bisa mengabdi kepada Allah dengan benar.
INGAT…!!! 140 RIBU HIJAB MENUTUPI MANUSIA SEHINGGA MANUSIA TIDAK KENAL KEPADA ALLAH!
Maka hijab itu harus di buka! sedangkan membuka hijab itu membutuhkan guru pembimbing rohani yang benar-benar bisa mengantarkan kepada Allah.
Dalam kitab Jamiul Ushul guru pembimbing rohani memiliki ciri khusus
Hatinya senantiasa hadir (tidak pernah lepas) dihadapan Allah (LILLAH BILLAH) artinya Sang Guru tidak pernah menonjolkan diri, senantiasa rendah dan perasaan ini dialirkan kedalam hatinya murid sehingga si murid hatinya seperti guru pembimbing rohani dia selalu rendah, banyak menangis, dan tidak pernah menonjolkan dirinya (akunya) walaupun murid ada dibelahan timur bumi dan guru ada dibelahan barat bumi, guru itu mampu memancarkan ilmunya sehingga si murid benar-benar mendapatkan ilmu dari guru.

Memiliki kemampuan sehingga menerobos rahasia jagat alam artinya Sang Guru itu mampu menembus rahasia hati si murid sampai yang paling rahasia sehingga mampu membimbing murid untuk menghilangkan penyakit “AKU” yang ada didalam hati si murid.

Senantia memikirkan permasalahan umat manusia untuk dibimbing kenal kepada Allah artinya Sang Guru memiliki prihatin terhadap umat di zamannya untuk memperbaiki mental umat masyarakat untuk kenal kepada Allah.
Maka dari itu wahai saudaraku…
Carilah guru pembimbing rohani itu walaupun beliau adalah seorang tukang becak, petani, pemulung, dsb tapi bisa membimbingmu untuk bisa menghancurkan penyakit “AKU” yang ada didalam hati kita sehingga hijab itu terbuka akhirnya kita bisa mengenal kepada Allah.
Ingat…!!!
Orang sadar yang dicari hanya satu yaitu “ALLAH”!
Orang sadar selalu merasa “AKU ADALAH HAMBA, AKU ADALAH RENDAH, AKU PENUH DOSA”!

Sehingga dimanapun berada, walaupun ia ahli sujud, walaupun ia ahli dzikir, walaupun ia ahli mujahadah, walaupun ia ahli menangis sekalipun bukan malah kebanggaan merasa “AKU” ia dapat akan tetapi dirinya diliputi oleh perasaan penuh dengan kerendahan, penuh dengan kotoran noda dan dosa, sehingga benar-benar rendah dihapadanNya.

Mari kita renungkan wahai saudaraku….!!!

Menghadap Allah harus bersih dan suci, tidak mungkin Allah disekutukan dengan apapun juga walaupun sebiji atom perasaan “AKU”!

Sekali lagi…!!!

HARAM HUKUMNYA ketika kita dihadapan Allah merasa suci, merasa mulya, merasa baik, merasa ahli ibadah, maka ketika kita dihadapan Allah, tiada kebanggaan, tiada kesombongan, tiada pernah merasa memiliki, yang ada hanya perasaan rendah, yang ada hanya perasaan hina, yang ada perasaan tidak pantas menghadap kepadaNya, sehingga dirinya NOL, tidak ada kemampuan didalam dirinya, akhirnya iapun menyadari kalau dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

“Maka janganlah kamu membuat sekutu (merasa aku) untuk Allah padahal kamu mengetahui (bahwa Allah adalah Maha Esa) ” (QS. Al Baqarah1  : 22).

Wahai saudaraku…

“Sungguh heran dan sangat mengherankan siapa orang yang lari dari kenyataan padahal dia tidak bisa lari dari kenyataan bahwa dia tidak bisa bisa dariNya”

Dalam filosofi pewayangan “WAYANG TIDAK BISA LEPAS DARI DALANG” karena wayang ketika lepas dari dalang sesungguhnya wayang tidak akan mampu main, menang, jatuh, bahkan bisa bergerak.

Begitupula kita sebagai manusia tidak akan bisa lepas daripada Allah, tapi sungguh heran ketika manusia diberi kemuliaan, diberi kekayaan, diberi kemampuan untuk hidup, kemampuan untuk beribadah, lupa dari kenyataan bahwa semua dari Allah, malah semua di AKU, bukan merasa semua datang dari Allah!

INGAT…!!!

SEKALI MERASA AKU, SAAT ITU BUTA MATA HATI KITA!

SEKALI MERASA AKU, JAUH SUDAH KITA DARI ALLAH!

BAGAIMANA DENGAN KITA WAHAI SAUDARAKU…???
BUTAKAH MATA HATI KITA?
LARIKAH KITA DARI KENYATAAN BAHWA SEMUA  DATANG DARI ALLAH?
Mestinya kita sadar tanpa Allah kita tidak akan bisa ibadah, tidak bisa bermujahadah, tidak bisa haji, tidak bisa berbuat apa-apa, melainkan bisa berbuat, bisa beribadah, bisa bermujahadah, bisa haji itu sebab karena Allah (LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH).
Tapi musuh yang bernama “AKU” mengalihkan pandangan kita sehingga lari dari kenyataan bahwa semua itu datang dari Allah, akan tetapi  semua diaku (aku mampu, aku kuat, aku kaya, aku ahli ibadah, aku pandai, aku mulya)!
Akhirnya kita tidak mampu kenal dengan ALLAH SANG PENCIPTA! Sehingga kita lari dari kenyataan bahwa kita adalah hamba yang lemah, tidak mampu apa-apa, karena kita adalah ciptaan, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!

INGAT WAHAI SAUDARAKU….!!! 

USIA TIDAK BISA DIRABA DAN TIDAK BISA DITERKA! DAN HIDUP PASTI ADA UJUNGNYA! 

Ketika kita bangga dengan ibadah kita, bangga dengan haji kita, bangga dengan mujahadah kita, tahu-tahu utusan Allah tiba-tiba datang tanpa diduga sambil mengatakan “WAKTUMU DI DUNIA SUDAH HABIS!” 

Alangkah kaget dan menyesalnya kita karena waktu tidak bisa diputar ulang, dan kesempatan hanya sekali! 

Setinggi dan sejauh kita melangkah suatu saat pasti akan putus! 

Sejauh kita berkiprah pasti akan terhenti! 

Sejauh kita beraktifitas pasti ada ujungnya! 

Sejauh kita melangkah pasti ada batasnya! 

Semulya dan sekaya apapun kita ujungnya semua pasti akan ditinggal! 

Apakah belum waktunya belum merendah dihadapan Allah? 

Buang kebanggaan, buang ketakaburan, buang keakuan! 

Buang merasa memiliki! 

KARENA ITU ADALAH PENYAKITNYA HATI!
Maka dari itu mulai detik ini KITA LATIH KERENDAHAN… KITA LATIH TIDAK ADA KEMAMPUAN… KITA LATIH PERASAAN NOL bahwa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!
Insya Allah kita akan tertolong didalam perjalanan hidup ini yang hanya satu kali kesempatan dan harus berarti ini!
Semoga Allah meridhoi…
Aamiin…
----
Catatan Perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam Bumi Kerendahan, 14 November 2014
“Hidup Sekali Harus Berarti”
---
* Refrensi diambil dari kajian alam hikmah ke - 139 :

Sebarkan:

1 comments :

  1. Maaf Komentar,,, Kedudukan hamba takkan bisa disamakan dengan ummat. Seorang hamba ialah orang yang memegang amanah Allah yang akan disampaikan pada ummat. Hamba ialah seorang warisatul anbiya, yang akan menyampaikan amanah walaupun itu satu ayat (بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً). Dan Wali Allah pun belum tentu warisatul anbiya. Mohon maaf bila terdapat kesalahan.

    ReplyDelete