Home » , » Apakah Tuhanmu Akan Kau Gadaikan Dengan Malam Seribu Bulan?

Apakah Tuhanmu Akan Kau Gadaikan Dengan Malam Seribu Bulan?

Written By Admin Saturday, July 11, 2015 - 7:00 AM WIB | 0 Komentar

(Renungan Ramadhan Dalam Menggapai Keutamaan 1000 Bulan)
Siapakah yang mendapat lailatul qodar itu?
Adakah orang muslim yang tidak kenal dengan lailatul qodar (malam seribu bulan)?
Dimalam itu lebih baik daripada 1000 bulan yang diberikan oleh Allah kepada umat Muhammad Rasulullah Saw, sungguh sangat menakjubkan, sungguh agung karunia Allah yang diberikan kepada hambanya dimalam itu. Alangkah mulianya si hamba bila mendapat karunia agung itu, dan siapakah hamba yang mendapat karunia itu?
Ingat saudaraku…!!!
Lailatul qodar adalah karunia dan fadhol dari Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang dan fadholnya Allah hanya diberikan kepada hambaNya yang memiliki hati senantiasa merasa rendah, hina, dan merasa penuh dosa, dholim dihadapan Allah Swt.
Maka orang yang mendapat karunia agung itu, dia diperkenankan untuk mengabdi kepadaNya dengan lurus dan ikhlas, sehingga dimalam seribu bulan itupun ia beribadah semata-mata karena Allah dan tidak terpengaruh dengan keistimewaan malam seribu bulan itu. Hatinya senantiasa memandang Allah sebagai tujuan hidupnya dan dia senantiasa mengharap dan membutuhkan dengan penuh kerendahan keharibaanNya.
Firman Allah :
Wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun (Adz Dzaariyat : 56)
“Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan hanya semata-mata mengabdi kepadaKU”
Dan bagaimana kita menggapai karunia dibulan Ramadhan ini? dan bagaimana kita bisa menggapai lailatul qodar?
Ingat saudaraku…!!!
Semua amal digambarkan seperti gerbong–gerbong kereta, begitupula amal ibadah kita dibulan Ramadhan ini akan sampai pada tujuannya bila ada lokomotifnya, dan bagaimana jika gerbong-gerbong itu tidak memiliki lokomotif, apakah bisa sampai pada tujuan (menuju kepada Allah)?
Jawabannya : Mustahil….!!! Mustahil sekali akan sampai pada tujuan, jangankan sampai pada tujuan, bergerakpun tidak akan mampu! bahkan tertolak!
Begitupula dengan amal-amal yang kita lakukan, apakah amal-amal itu akan sampai dan akan bermanfaat bagi si hamba tanpa adanya lokomotif? Lalu apakah lokomotifnya amal itu?
Ingat saudaraku…!!! Didalam doa iftitahketika kita sholat kita berjanji kepada Allah yaitu sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah TUHAN SEMESTA ALAM!
Inilah lokomotifnya amal yaitu LILLAH (untuk Allah semata), tanpa pengetrapan LILLAH semuanya akan ditolak oleh Allah!
Dibulan Ramadhan yang mulia ini, Allah memberikan satu malam di bulan Ramadhan yang disebut LAILATUL QODAR (malam seribu bulan) maka ketika si hamba mencari malam seribu bulan dan beribadah didalamnya, I’tikaf di masjid dengan bermacam-macam ibadah tanpa dijiwai pengetrapan LILLAH (hanya semata-mata karena Allah) maka kita sama saja MENGGADAIKAN TUHAN DENGAN MALAM SERIBU BULAN! karena kita beribadah bukan karena Allah tapi ibadah karena malam seribu bulan (lailatul qodar).
Ingat janji kita kepada Allah…!!! Innassholatii…. Wanusukii…. Wamahyaya… Wamamaatii…. Lillahi Robbil Alamin…
Mari kita koreksi bagaimana dengan ibadah kita wahai saudaraku…??? Jangan munafik…. Jangan kau tipu diri ini!
Sudah luruskah amal kita? Sudah LILLAH kah ibadah yang kita kerjakan? Ibarat gerbong sudahkan ada LOKOMOTIFnya?
Apakah akan kita tukar Allah Yang Maha Mulia dengan kemuliaan bulan Ramadhan yang didalamnya ada malam seribu bulan…???? Ingat semuanya itu adalah ciptaanNYA!
Maka sekali lagi jangan tukar dan jangan kau gadaikan TUHANMU dengan semuanya, termasuk kemuliaan Ramadhan dan lailatul qodar!
Saudaraku….
Tahukah apa hakikat lailatul qodar itu?
Bagaimana ciri-ciri orang yang mendapatkan lailatul qodar itu?
Lail yang berarti malam atau sepi, dimana seorang hamba bisa menyepikan hatinya, mensunyikan hatinya dari pengaruh-pengaruh makhluk sehingga hatinya benar-benar bersih hanya memandang Sang Pencipta, maka saat itulah hakikatnya lailatul qodarkarena dia lebur kedalam kemuliaanNya.
Dan ciri orang yang telah mendapatkan lailatul qodar yang nampak jelas adalah perubahan sikapnya, dari tinggi hati menjadi rendah hati, dari sombong menjadi tawadhu’, dari mulia menjadi merasa hina, sehingga si hamba yang mendapat lailatul qodar itu seketika hilang penyakit kesombongan maupun penyakit KEAKUAN, yang jelas perubahan hati yang nampak pada sikap lahiriyah.
Renungkan wahai saudaraku…!!!
Sudahkah kita demikian atau setelah Ramadhan malah merasa lebih suci, mulia dan lebih baik?
Pada malam 10 terakhir dibulan Ramadhan, banyak umat berbondong-bondong, beriktikafdimasjid-masjid untuk mendapatkan lailatul qodar itu, tapi sayang masjid yang ada di rohani dibiarkan najis dan banyak dihuni patung-patung dunia, bahkan anjing-anjing yang najis pun berada didalamnya, sehingga tidak mungkin malaikat akan turun sesuai dengan janji Allah bahwa para malaikat turun sampai fajar dengan membawa keselamatan, kemuliaan, dan doa.
Sebagai sabda Rasulullah Saw :
“Qolbun mukmin baitul haq”
“Hati (jiwanya) orang mukmin adalah rumah Tuhan”
Ingatlah sesungguhnya yang menerima lailatul qodar itu hakikatnya bukan jasad,  akan tetapi rohani (jiwa) atau hati.
Walaupun tiap malam kita i’tikaf di dalam masjid dengan khusyu’dan tekunnya, jika masjid yang ada di dalam jiwa ini masih kotor, banyak patung dan anjing-anjing rohani, maka para malaikat tidak akan turun kedalam hati seorang hamba yang masih kotor, penuh KEAKUAN, kesombongan, dan kebanggaan, sehingga tidak pernah merasa rendah, dosa, dan hina (karena itu adalah sifat sejati sebagai hamba).
Andaikan saat itu surga, lailatul qodar, pahala, nampak di pelupuk mata, orang yang mendapatkan karunia lailatul qodartetap bersimpuh dihadapan Allah, tidak bergeming dan terpengaruh dengan apapun jua.
Karena hakikat lailatul qodar itu sendiri adalah leburnya jiwa kehambaan kedalam samudera KEESAANNYA, sehingga wajarlah kalau Malaikat turun mengucapkan “SALAMUN HIYA HATTA MATH LAIL FAJR”.
Ingatlah: Tujuan hamba hanya mengabdi kepada TuhanNya dengan murni dan penuh keikhlasan! Banyak diantara kita, terjebak dengan iming-iming itu semua, termasuk Al Fakir sendiri.
Ingatlah: Allah tidak akan pernah mengingkari janjinya, kemuliaan akan diberikan kepada hamba yang tulus, karena Allah akan cemburu apabila melihat hambanNya berpaling kepadaNya, seperti orang yang kau cintai ketika berpaling denganmu, pasti engkau akan cemburu ketika orang yang kau cintai mencintai orang lain.
Maka temukan DIA, pasti semua kemuliaan akan diberikan kepadamu.
Buka hatimu dengan alat kerendahan jiwamu…
Buka hatimu dengan air mata kerendahan di hadapan Tuhan…
Buka hatimu dengan dosa-dosa yang pernah kau lakukan sehingga kau merasa kecil dihadapanNYA…
Sebab tidak akan seorang mendapatkan lailatul qodar ketika hati belum terbuka!
Ingat saudaraku…!!!
Walaupun sebulan penuh kita i’tikaf dan beribadah didalam masjid, tapi masjidnya jiwa tidak pernah kita huni untuk beribadah pasrah dan ikhlas kepada Allah Sang Pencipta dengan penuh kerendahan dan merasa dosa maka lailatul qodar tidak akan turun kedalam jiwa kita.
Bagaimanakah dengan diri kita disaat Ramadhan yang mulia ini, sudah LILLAH kah dan sudah menghadap kepadaNya dengan perasaan rendah, hina, dan merasa berlumuran dosa?
Apakah justru sebaliknya diri kita merasa suci, merasa ahli ibadah dan baik dihadapanNya?
Mari kita koreksi wahai saudaraku…
Ketika mata hati ini kita buka dengan perasaan hina…
Ketika mata hati ini kita buka dengan perasaan dholim…
Ketika hati ini kita buka dengan air mata kerendahan dihadapan Tuhan…
Maka terbukalah hati…
Dan ketika hati terbuka, saat itu turunlah para malaikat ke dalam jiwa (hati) ini, karena hati yang ingat kepada Allah akan didatangi oleh para malaikat dengan mengucapkan “SELAMAT” (SALAMUN HIYA HATTA MATHLAIL FAJR).
Mari kita renungkan wahai saudaraku….
Dimalam seribu bulan itu bersama malaikat yang turun dimalam itu nilainya lebih baik daripada 1000 bulan.
Sekali lagi mari kita renungkan….
Bagaimana jika Allah Sang Pencipta itu sendiri memberi karunia kepada hambaNya sehingga diperkenankan bersimpuh dihadapanNya? Hanya ada DIA (SANG PENCIPTA LAILATUL QODAR), mungkin dan pasti lebih dahsyat, lebih mulia sehingga satu saat bersama SANG PENCIPTA lebih baik dari 1 JUTA TAHUN bahkan lebih daripada itu semua.
Renungkanlah wahai saudaraku...
Bagaimana dengan keadaan kita…???
Ingat…!!! Sesaat bersama Allah (SANG PENCIPTA) lebih dari segala-galanya!
Sekali lagi…. Lebih baik dari semuanya karena ALLAH YANG MAHA ADA, YANG MAHA PENCIPTA, YANG SELAIN DIA ADALAH MAKHLUK YANG WUJUD KARENA DI WUJUDKAN!
Selamat dan berbahagialah wahai jiwa yang menemukan hakikat lailatul qodar itu.
###
Pesan Sang Prof:
Gapai lailatul qodar dengan kebersihan hati dan kesucian jiwa,
Gapai lailatul qodar dengan kerendahan dan kehinaan diri senantiasa merasa dholim dan penuh dosa,
Jadilah hamba dan jangan merasa menjadi Tuhan….. kita akan binasa!
Selamat menunaikan ibadah puasa,
Semoga diakhir penghujung puasa ini kita mendapat kemenangan karena sudah mendapatkan lailatul qodar.
Hakikat kemenangan adalah mengenal jati diri bahwa diri ini adalah bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Ujian besar bagi orang-orang besar dan ujian kecil bagi orang-orang kecil, ujian yang kita hadapi saat ini, inilah kelas dan derajat kita disisiNya.
Temukan Tuhanmu : “Ketika kau pejamkan matamu maka leburlah semuanya, dan ketika kau buka matamu maka nampaklah semua itu adalah ciptaan yang semu belaka”
Hanya dengan kesadaran NOL (semua hanya Allah) dan kerendahan yang serendah-rendahnya kita akan mendapatkan karunia agung dari Allah SANG PENCIPTA.
Selamat berjuang….. kita akan kembali keharibaanNya
Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada kita semua.
Wassalam….
--------------------------------------------------------------
Catatan kelam perjalanan Al Fakir yang hina
Dalam Bumi Kerendahan, 15 Juli 2014 (17 Ramadhan 1435 H )

“Hidup Sekali Harus Berarti”


Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment