Home » » Kanker Rohani Bernama Iri & Hasud

Kanker Rohani Bernama Iri & Hasud

Written By Admin Saturday, June 11, 2016 - 4:00 PM WIB | 0 Komentar

Marhaban Yaa Ramadhan…
Kita telah masuk dalam bulan yang mulia dimana bulan itu adalah bulan yang penuh berkah, bulan dimana sang hamba diperkenankan untuk mencapai suatu kemulyaan mendapatkan gelar taqwa dihadapan Allah. Ramadhan ibarat sebuah mesin dimana mesin itu untuk mencetak agar manusia bermartabat sehingga menjadikan mulya kedudukan dihapadan Allah.  Seperti halnya kupu-kupu tidak akan menjadi indah, selagi si ulat tidak mengalami proses menjadi kepompong dahulu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al Baqarah : 183)
Marhaban Yaa Ramadhan…
Tapi sebelum melangkah lebih jauh, mari kita koreksi bersama, setiap tahun kita berpuasa, setiap tahun kita melewati malam lailatul qodar, dan setiap tahun kita mendapat titel idul fitri, akan tetapi kenyataanya adakah perubahan akhlaqul karimah didalam diri kita? ataukah masih ada penyakit hati perasaan sombong, iri dan hasud terhadap terhadap sesama? Fenomena yang terjadi saat ini, manusia sudah hilang kemanusiaannya, sehingga manusia sudah tidak bermoral dan bermartabat lagi.
Banyak kasus dan berita yang sudah kita saksikan bersama dan bukan menjadi rahasia umum lagi, kebobrokan moral sudah muncul bukan hanya dari kalangan remaja akan tetapi muncul dari kalangan anak-anak, syahwat diumbar begitu saja, layaknya seperti hewan tanpa akal dan pikiran.
Mari kita renungkan bersama-sama wahai saudaraku….
Masih ada KANKER ROHANI yang menjangkit rohani kita? Masih ada perasaan iri terhadap sesama, sehingga menimbulkan hasud?
Tentunya ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar dan belaka, akan tetapi ramadhan adalah ajang untuk melatih jiwa, supaya kenal dengan jati dirinya, sehingga hati kita menjadi bersih.
Ingat Rasulullah Saw pernah bersabda yang pernah diriwayatkan oleh Abu Dawud:
"iyyakum wal hasada fainnal-hasada yak kulul hasanaati kamaa takkulunnaarul hathoba"(HR Abu Dawud)
artinya:
“Jauhilah sifat dengki karena sesungguhnya dengki itu bisa merusak amal kebaikan,seperti halnya api memakan kayu”
Begitu hebatnya penyakit hasud itu sehingga amal yang kita bangun apabila terjangkit penyakit hasud itu bagaikan api memakan kayu sehingga tiada satupun tersisa.
Definisi dari iri sendiri adalah sesuatu hal yang tidak suka terhadap kelebihan orang lain akan tetapi masih tersimpan didalam hati.
Ciri-ciri orang iri hati:
1. Tidak dapat melihat orang lain lebih (maju,bahagia, atau berhasil).
2. Cenderung senang mencari kesalahan orang lain.
3. Sulit mencukup diri dengan apa yang ada (sulit bersyukur).
4. Senang lihat orang lain susah/menderita /gagal.
5. Cenderung banyak membicarakan/mengexpose masalah orang lain.
Contoh:
Ada orang yang bernama fulan dan fulana, suatu saat kedua orang itu diterima disalah satu perusahaan yang bonafit sama-sama memulai karir dari nol, suatu saat si fulana diangkat posisinya yang lebih tinggi oleh pihak manajemen, saat itu tidak terima dengan keputusan dari pihak manajemen, akhirnya dalam hati berkata “kok bukan aku ya yang diangkat, padahal aku lebih pintar daripada si fulana”
Begitupula dengan hasud, cirinya sama seperti iri akan tetapi dia mulai action (ada tindakan) dengan berbagai cara untuk menjatuhkan kepada lawannya, apabila kisah si fulan tadi hanya terpendam didalam hati, kali ini si fulan rela melakukan apapun untuk menjatuhkan si fulana. Dia mulai action untuk mengadu domba terhadap sesama, bahkan dia bahkan dia berani menjilat atasannya dengan tujuan untuk menjatuhkan si fulana.
Itu contoh dalam skala kecil, begitupula contoh dalam skala besar:
Bagaimana jadinya jika seorang pimpinan negara mengidap penyakit kanker rohani. Tentulah efeknya sangat besar, mungkin akan terjadi perpecahan antar bangsa, sehingga perang dunia ke-3 akan terjadi.
Sungguh sangat mengerikan…!!! Jutaan orang yang tidak bersalah mati gara-gara penyakit rohani tersebut. Begitu hebat penyakit kanker rohani yang menimpa umat di zaman ini!
Ingat…!!! Penyakit hasud itu tidak akan muncul jika orang itu tidak memiliki perasaan lebih (AKU)! Dan orang hasud hidupnya tidak akan tenang, pada umumnya penyakit ini melanda kaum atas, pimpinan, dan orang kaya!
Dalam filsafat jawa Sunan Bonang dengan lihai menggambarkan didalam pewayangan, zaman itu adalah zaman adalah zaman kolobendu! dan Sunan Kalijogo menggambarkan sifat hasud itu dengan karakter dasamuka (dasa = 10 muka = wajah, artinya berwajah 10), dasamuka tidak rela kalau ada yang melebihi dirinya, dalam kisah pewayangan dasamuka iri dengan rama yang memperistri dewi shinta. Sehingga segala macam cara bagaimana ia menjatuhkan rama agar mendapatkan dewi shinta. dasamuka mempuyai aji pancasona dan aji rawarontek (tidak bisa mati), siapapun tidak bisa mengalahkan dasamuka, hanya anoman wanaraseta (kera putih) yang bisa mengalahkan dengan menjatuhkan bukit suwamana (siyem).
Filosofi ini mengandung arti bahwa sifat “AKU” (dasamuka) tidak akan pernah mati selagi belum hati kita belum menjadi kera putih (anoman wanaraseta) yang berarti kera adalah filosofi kerendahan dan putih adalah suci (NOL) dan bukit  suwamana/siyem adalah filosofi manusia asalnya dari tanah kembali kepada tanah.
Dalam kumpulan larik puitis hikmah yang disampaikan oleh Ibnu Atha’illah as-Sakandari yang terkenal, dalam kitab Al-Hikam, beliau menulis:
Idfin wujudaka fil ardhil-khumul, fama nabata mimma lam yudfan la yatimmu natajuhu 
(Tanamlah wujudmu dalam bumi kerendahan, karena sesuatu yang tumbuh dari apa yang tidak ditanam, hasilnya tidaklah sempurna).
Dan beliau Syeikh Sayyid Abdul Majdid Ma’roef Ra dalam karangan sholawat wahidiyahnya mengajarkan:
 حَتىَّ لاَنَرَى وَلاَنَسْمَعَ وَلاَنَجِدَ وَلاَنُحِسَ وَلاَنَتَحَرَكَ وَلاَنَسْكُنَ إِلاَّ بِهَ،
HATTA LAA NAROO WALAA NASMA’AA WALAA NAJIDA WALAA NUHISSA WALAA NATAHARRAKA WALAA NASKUNA ILLA BIHAA.
Tenggelamkanlah kami dalam pusar dasar samudera keesaan-Mu sedemikian rupa, sehingga tiada kami melihat, tiada kami mendengar, tiada kami menemukan, taiada kami merasa, tiada kami bergerak dan taiada kami berdiam melainkan senantiasa merasa dalam samudera tauhid-Mu.
Renungkanlah wahai saudaraku….!!!
Masih adakah kerendahan didalam jiwa kita? Ataukah perasaan “AKU” yang mendominasi didalam jiwa kita? Ingat…!!! Hidup hanya sesaat… dunia yang kita dapat sebentar lagi pasti akan kita tinggal, maka hilangkan perasaan memiliki, hilangkan perasaan iri, dan hilangkan perasaan hasud terhadap sesama.
Kita adalah manusia, satu ciptaan, dan satu tuhan (Alloh)!, maka bersihkanlah hati, rendahkanlah dihadapan Alloh karena kita adalah hamba, NOL jangan merasa memiliki kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, asalnya tanah kembali kepada tanah!
Hanya 2 kekuatan yang harus kita latih dan kita bawa sampai mati rendah dan NOL!
Alangkah indah jika jiwa kerendahan teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tiada lagi penyakit iri dan hasud, sehingga tercipta negeri yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur (negara bermartabat dan selalu dalam ampunan Alloh).
Wassalamualla’ikum Wr Wb
*****
Catatan perjalanan Al Fakir yang hina
Dalam bumi kerendahan, 11 Juni 2016 (6 Ramadhan 1437 H)

“Hidup Sekali Harus Berarti”

Sebarkan:

0 comments :

Post a Comment