Home » » Hidup Antri Untuk Mati

Hidup Antri Untuk Mati

Written By Admin Sunday, January 1, 2017 - 6:58 PM WIB | 1 Komentar

Ingat wahai saudaraku…
Kalau kita sadar, sadar akan mati, pasti kita prihatin…
Sebuah ilustrasi :
Ada seorang narapidana diputuskan hukuman mati, tidak tahu kapan akan dieksekusi tembak
Hari demi hari dia prihatin, dia memikirkan akan mati
Hari-harinya pun dipakai untuk ibadah, dipakai untuk puasa, dipakai untuk riyadhoh, melatih hatinya bersiap untuk kembali pulang menghadap keharibaanNya
Akhirnya “Si Narapidana” yang akan dihukum mati dipindah ke ruang isolasi untuk dieksekusi mati
Dia menyadari berarti hidupnya sudah tidak lama lagi, hanya tinggal menghitung hari
Mulai stress karena dia akan dihadapkan diregu tembak
Tiap malam menangis, mengisolasi diri, tidak banyak bertanya, tidak banyak berkata, mulut dibungkam erat-erat, hati menyadari akan mati diujung tembak
Diputuskan kurang besok dia akan dieksekusi dihadapan regu tembak, semakin dekat dia tidak semakin enak makan, tidak bisa tidur, karena sadar dia akan mati
Saatnya dihukum tembak, mungkin dia menjerit sekuat-kuatnya memohon ampun dihadapan Alloh dengan takbir sekuat-kuatnya diujung maut regu tembak
Ini orang sadar ingat mati!
Kitapun akan dieksekusi oleh Izroil, bedanya tidak diujung tembak, mungkin kita tidak tahu kapan mati itu ada, padahal mati sudah mendekat, kita sudah mendekat dengan kematian, kita sudah mendekat dengan kematian!
Ingat saudaraku…!!!
HIDUP ITU ADALAH ANTRI UNTUK MATI! INGAT…!!! HIDUP ANTRI UNTUK MATI!
Tapi kita malah senang-senang tidak pernah ingat dosa kita, tidak pernah kita tunduk dihadapan Alloh, bahkan mungkin kita banyak tertawa, padahal mati sudah mendekat, kita sudah antri sangat dekat sekali tapi tidak tahu
Mari kita renungkan wahai saudaraku…
Hidup ada batasnya, apalagi kalau kita nanti dimasukkan neraka, disana tidak ada kematian, mengapa kita tidak menangisi dosa kita
Ingat…!!!
Orang yang cerdas, orang yang mengetahui dosanya!
Orang yang cerdas, orang yang mengenal bahwa dia akan meninggalkan dunia!
Orang yang cerdas itu tahu bahwa dirinya akan mati, dia akan mati!
Persiapan sowan dihadapan Alloh yang Maha Suci, tiada sekutu baginya!
Maka dia mengeNOLkan diri, tidak menjagakan siapa-siapa, tidak menjagakan ibadahnya, tidak menjagakan amalnya, yang dijagakan Alloh Sang Penciptanya!
Saudaraku… renungkan ilustrasi diatas!
Kita akan pulang tapi kita tidak pernah menyesal!
Kita akan mati tapi kita tidak pernah merasa dosa!
Air mata ini kering untuk bertaubat, tapi air mata itu subur untuk memikirkan dunia!
Air mata mudah tumpah untuk urusan dunia!
Tapi untuk urusan akhirat, urusan dosa sangat kering… kering sekali…
Sehingga tidak ada manusia yang menangisi dosa lagi
Kembali… kerendahan… kerendahan… perasaan penuh dosa harus ada didada kita
Renungkan dan rasakan didalam hati…
Mari kita mohon kepada Alloh, keluarga kita, anak-anak kita, yang mungkin umat islam dimasa akan datang sudah akan muncul jahiliyah yang kedua, dan ini butuh pertolongan, butuh doa dari kita semua dengan penuh kerendahan.
Kalau memang kita cerdas, merasa akan mati, maka air mata pasti akan tumpah, kalau kita lengah, tidak penyesalan itu ada didalam diri kita.
Sadaraku… dilatih… kami menyadari terutama diri saya, penuh dosa, tidak mampu, tidak bisa, tapi dilatih… dilatih… ALLOH ROHMAN ROHIM… ALLOH ROHMAN ROHIM… ALLOH ROHMAN ROHIM…
Rasululloh Saw akan memberi syafaat, sayang kepada umatnya, maka harus dilatih, kita tidak hanya bermujahadah hanya bungkusnya, tapi melatih mujahadah ini dengan jiwa kita, dengan perasaan rendah serendah-rendahnya.
Ingat…!!! kita jangan enak-enak hidup, karena “HIDUP INI ANTRI UNTUK MENUJU KEMATIAN!”
Padahal kita semakin dekat, tapi aneh tidak semakin baik, kita semakin dekat akan berpulang, tapi aneh tidak ada perubahan sama sekali, sehingga kita mungkin pulang lebih jahat… lebih jahat… maka kita mati akan suul khotimah, tapi kalau kita rendah-rendah... kita akan mati dengan khusnul khotimah…
Aamiin... Aamiin…
Dilatih… dilatih… dilatih…
Ingat…!!! Kita antri untuk mati, dilatih sehingga ujungnya khusnul khotimah…

Catatan perjalana “Al Fakir yang hina”
Dalam bumi kerendahan, 1 Januari 2017
Hidup Sekali Harus Berarti



Sebarkan:

1 comments :

  1. ijin share tulisannya. sumber saya cantumkn. trima kasih

    ReplyDelete